Tampilkan postingan dengan label BALITA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BALITA. Tampilkan semua postingan

6 Mar 2015

Tips Balita : Haruskah Balita Masuk Prasekolah.

Tidak Harus! Menurut Anna Surti Ariani, S.Psi, pakar perkembangan dan pendidikan anak, masuk playgroup itu tidak harus. Selama ada yang bisa menjaga anak dengan aman di rumah dan mampu menstimulasi dengan baik, balita tidak harus masuk playgroup. Dan sepanjang orangtua atau pengasuh mampu menerapkan berbagai parenting style yang tepat, anak tak harus masuk sekolah sebelum usia 4 tahun. “Dengan pola pengasuhan yang baik di rumah, balita justru bisa bermain dengan lebih bebas dan tenang. Tentunya juga perlu tambahan pengalaman bermain di luar rumah dengan para tetangga,” terang Nina.

Soal indikator, menurut Nina berbeda untuk tiap usia. Rata-rata anak dikatakan cukup siap sekolah jika dia sudah lebih bisa mandiri dan tak terlalu menempel kepada orangtua. “Dia juga sebaiknya sudah bisa mengontrol buang airnya sehingga tak terus-terusan ngompol atau buang air besar,” jelas Nina. Menurut Nina, anak di bawah 4 tahun boleh masuk sekolah jika syarat-syarat ini terpenuhi:
Tidak ada yang bisa memastikan keamanan anak di rumah. Misalnya, karena yang menjaganya di rumah adalah pengasuh yang belum sepenuhnya kita percaya.
Tidak ada yang mengerti cara menstimulasi anak sesuai usianya. Misalnya, karena anak pertama, ibu atau pengasuh hanya membiarkannya saja untuk menonton TV karena tak tahu apa yang harus dilakukan atau karena malas.
Tidak punya waktu untuk menstimulasi, misalnya ibu bekerja.
Tak ada yang paham tentang pengasuhan yang tepat untuk anak, sehingga anak terus saja dimarahi.
Tak ada yang mengerti apakah anak normal atau ada gangguan dalam perkembangannya.
Anak memang betul-betul terlihat punya minat pergi ke sekolah, tapi yang terakhir ini tak boleh dipaksa, karena walaupun berminat, mungkin saja sesekali dia malas sekolah.
Jangan memaksa! Orang tua jangan terlalu bergantung pada sekolah. Sekarang ini ada beberapa sekolah yang menerima anak kurang dari 6 bulan. Sebenarnya, anak akan lebih baik berkembang di rumah dalam masa balitanya. Jangan memaksakan anak untuk sekolah terlalu dini. Menurut banyak penelitian, anak yang terlalu muda bersekolah, mungkin saja bisa mengikuti pelajaran tapi seringkali memiliki masalah dalam perkembangan emosi dan sosialnya kelak. Jika di rumah, memang tidak ada yang bisa mengasuh secara aman dan menstimulasi anak dengan tepat, boleh-boleh saja anak bersekolah. Pilih sekolah yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan balita.

Memilih Prasekolah. Menurut Nina, sekolah terbaik itu tak ada. Yang ada adalah sekolah yang paling tepat untuk balita kita. Contohnya, sekolah harus tidak terlalu jauh dari rumah, paling jauh adalah 30 menit perjalanan (Menghitungnya bukan dari jarak tempuh namun waktu tempuh, mengingat sekarang jalanan begitu macet). Jika anak aktif, ada baiknya bersekolah di sekolah yang memiliki halaman luas dengan kurikulum yang memungkinkan balita punya berbagai kegiatan aktif. Sementara untuk anak yang cenderung pemalu, lebih baik pilih yang jumlah anak di kelasnya sedikit saja atau guru berhasil mengenalkan anak kepada beberapa teman yang minatnya sama (tentu saja baik sekali kalau guru mengenal anak secara pribadi).”

Bagi orangtua yang merasa perlu memasukkan balitanya ke prasekolah, penting untuk mengecek apakah anaknya berkembang sesuai dengan usianya atau ada keterlambatan yang harus segera dikejar,” terang Nina. Karena, tujuan sekolah di usia dini bukanlah untuk mempersiapkan diri masuk SD, tapi lebih berupa stimulasi yang tepat untuk usianya.

Faktor lain yang perlu diperhatikan untuk prasekolah terutama adalah bagaimana si guru memperhatikan dan mengasuh anak, karena guru sebetulnya adalah pengganti orangtua di sekolah. Selain itu, prasekolah sebaiknya mengutamakan anak senang sekolah, bukannya menuntut anak menguasai kurikulum tertentu. Fasilitas yang lain hanyalah tambahan.

Sumber: Ayah Bunda

Share |
Tidak Harus! Menurut Anna Surti Ariani, S.Psi, pakar perkembangan dan pendidikan anak, masuk playgroup itu tidak harus. Selama ada yang bisa menjaga anak dengan aman di rumah dan mampu menstimulasi dengan baik, balita tidak harus masuk playgroup. Dan sepanjang orangtua atau pengasuh mampu menerapkan berbagai parenting style yang tepat, anak tak harus masuk sekolah sebelum usia 4 tahun. “Dengan pola pengasuhan yang baik di rumah, balita justru bisa bermain dengan lebih bebas dan tenang. Tentunya juga perlu tambahan pengalaman bermain di luar rumah dengan para tetangga,” terang Nina.

Soal indikator, menurut Nina berbeda untuk tiap usia. Rata-rata anak dikatakan cukup siap sekolah jika dia sudah lebih bisa mandiri dan tak terlalu menempel kepada orangtua. “Dia juga sebaiknya sudah bisa mengontrol buang airnya sehingga tak terus-terusan ngompol atau buang air besar,” jelas Nina. Menurut Nina, anak di bawah 4 tahun boleh masuk sekolah jika syarat-syarat ini terpenuhi:
Tidak ada yang bisa memastikan keamanan anak di rumah. Misalnya, karena yang menjaganya di rumah adalah pengasuh yang belum sepenuhnya kita percaya.
Tidak ada yang mengerti cara menstimulasi anak sesuai usianya. Misalnya, karena anak pertama, ibu atau pengasuh hanya membiarkannya saja untuk menonton TV karena tak tahu apa yang harus dilakukan atau karena malas.
Tidak punya waktu untuk menstimulasi, misalnya ibu bekerja.
Tak ada yang paham tentang pengasuhan yang tepat untuk anak, sehingga anak terus saja dimarahi.
Tak ada yang mengerti apakah anak normal atau ada gangguan dalam perkembangannya.
Anak memang betul-betul terlihat punya minat pergi ke sekolah, tapi yang terakhir ini tak boleh dipaksa, karena walaupun berminat, mungkin saja sesekali dia malas sekolah.
Jangan memaksa! Orang tua jangan terlalu bergantung pada sekolah. Sekarang ini ada beberapa sekolah yang menerima anak kurang dari 6 bulan. Sebenarnya, anak akan lebih baik berkembang di rumah dalam masa balitanya. Jangan memaksakan anak untuk sekolah terlalu dini. Menurut banyak penelitian, anak yang terlalu muda bersekolah, mungkin saja bisa mengikuti pelajaran tapi seringkali memiliki masalah dalam perkembangan emosi dan sosialnya kelak. Jika di rumah, memang tidak ada yang bisa mengasuh secara aman dan menstimulasi anak dengan tepat, boleh-boleh saja anak bersekolah. Pilih sekolah yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan balita.

Memilih Prasekolah. Menurut Nina, sekolah terbaik itu tak ada. Yang ada adalah sekolah yang paling tepat untuk balita kita. Contohnya, sekolah harus tidak terlalu jauh dari rumah, paling jauh adalah 30 menit perjalanan (Menghitungnya bukan dari jarak tempuh namun waktu tempuh, mengingat sekarang jalanan begitu macet). Jika anak aktif, ada baiknya bersekolah di sekolah yang memiliki halaman luas dengan kurikulum yang memungkinkan balita punya berbagai kegiatan aktif. Sementara untuk anak yang cenderung pemalu, lebih baik pilih yang jumlah anak di kelasnya sedikit saja atau guru berhasil mengenalkan anak kepada beberapa teman yang minatnya sama (tentu saja baik sekali kalau guru mengenal anak secara pribadi).”

Bagi orangtua yang merasa perlu memasukkan balitanya ke prasekolah, penting untuk mengecek apakah anaknya berkembang sesuai dengan usianya atau ada keterlambatan yang harus segera dikejar,” terang Nina. Karena, tujuan sekolah di usia dini bukanlah untuk mempersiapkan diri masuk SD, tapi lebih berupa stimulasi yang tepat untuk usianya.

Faktor lain yang perlu diperhatikan untuk prasekolah terutama adalah bagaimana si guru memperhatikan dan mengasuh anak, karena guru sebetulnya adalah pengganti orangtua di sekolah. Selain itu, prasekolah sebaiknya mengutamakan anak senang sekolah, bukannya menuntut anak menguasai kurikulum tertentu. Fasilitas yang lain hanyalah tambahan.

Sumber: Ayah Bunda

Share |

Pendidikan Balita : Ketrampilan yang Harus Diajarkan kepada Balita

Meskipun masih berusia prasekolah (3-6 tahun), anak sudah memiliki kemampuan untuk menolong diri sendiri seperti makan, minum, mengenakan baju, sepatu, dan kaus kaki sendiri. Sayangnya, banyak orangtua dengan beberapa alasan mengabaikan hal ini. "Kapan gemuknya kalau anak makan sendiri? Makannya sedikit, lama, berantakan lagi!"

Padahal, jika ingin mencetak anak unggul, orangtua seharusnya memberikan kesempatan seluas-luasnya pada anak untuk menolong dirinya sendiri. Pasti ada banyak aspek perkembangan yang dapat terasah dengan mengajari anak menolong diri sendiri. Saat mengajari anak makan sendiri, bukan hanya agar ia terampil makan sendiri, tetapi juga melatih motorik halusnya. Begitupun kemampuan berbahasanya, ikut tertempa.

Dengan banyak kemampuan yang dimiliki, kompetensi anak pun terdongkrak karena ia merasa bisa melakukan ini dan itu sendiri, sehingga kepercayaan dirinya meningkat. Karena itu, agar anak tumbuh menjadi sosok unggul, ia wajib diajarkan kemampuan menolong diri sendiri. Sebaliknya, bila ia kelewat dilayani dan dimanjakan, kemandiriannya bisa terhambat. Anak akan menjadi sangat bergantung pada orangtua, pengasuh, dan orang dewasa yang biasa ia jmintai bantuan. Ia tidak akan mampu menyelesaikan tugas-tugas perkembangannya sendiri.


Berikut ini beberapa hal yang penting dikuasai anak berkaitan dengan rutinitas sehari-harinya, dan cara menstimulasinya:

1. Menalikan sepatu
Perkenalkan dengan sepatu tanpa tali terlebih dahulu berikut kaus kakinya. Contohnya cara mengenakan dan melepaskannya. Setelah itu, minta anak melakukannya sendiri. Kita dapat mengatakan, "Coba pakai sepatunya sendiri." Setelah itu, "Lihat Ibu... satu, dua, tiga. Masuk kakinya ke sepatu." Ingat, jika anak telah mampu melakukannya sendiri, berikan dia reward berupa pelukan, ciuman, dan pujian.

2. BAK/BAB
Pertama yang diajarkan adalah berbicara saat hendak BAB/BAK. Memang agak sulit untuk menyampaikan hal tersebut, sebab kita tidak bisa mengonkretkannya pada anak. Namun, itu dapat disiasati lewat pembiasaan. Misalnya, setiap kali anak buang air kecil atau mengompol, yang umumnya diketahui dari gelagatnya seperti saat tidur anak gelisah, penisnya terlihat membesar, atau saat terjaga anak serta-merta menggerakkan badannya sebentar tanpa rencana. Saat itu, kita dapat membawa anak ke toilet untuk pipis. Lalu secara bertahap, ajari anak BAK/BAB sendiri, mulai membuka atau memelorotkan celana hingga duduk di kloset. Bila lubang kloset terlalu besar, beri tambahan dudukan kloset yang banyak dijual di pasaran.

3. Mengenakan baju dan celana
Pilih yang simpel seperti tanpa kancing atau resleting. Cara mengajarkannya sama dengan mengenakan sepatu. Ajak anak berkomunikasi dan berikan contoh, lalu berikan kesempatan padanya untuk mencoba melakukannya sendiri. Lakukan setiap kali anak selesai mandi, juga setiap dirinya ganti baju. Jika sudah berhasil, tingkatkan dengan baju dan celana atau rok berkancing.

4. Membereskan mainan sendiri
Minta anak membereskan sendiri mainannya ke tempat yang telah ditentukan. Dalam kesempatan ini kita juga dapat mengajarkan memilah mainan yang akan dimainkan. Jadi, anak hanya mengeluarkan mainan tertentu saja yang akan dimainkan. Ingat, kebiasaan jelek anak usia ini adalah mengeluarkan semua mainan dari wadah, padahal cuma satu atau tiga mainan saja yang dimainkan. Dengan pembiasaan seperti itu, anak akan lebih mudah membereskan mainannya.

5. Makan dan minum sendiri
Seiring dengan kemampuan motorik halusnya yang semakin baik, anak usia ini dapat makan sendiri tanpa banyak tumpah. Anak juga dapat memotong-motong sendiri makanan menjadi lebih kecil agar mudah dimakan. Kita hanya perlu mendampingi dan mengarahkan agar kemampuan anak semakin berkembang. Biarkan anak menikmati makanannya tanpa diburu-buru. Sebelum makan, minta anak mencuci dan mengeringkan tangannya sendiri, duduk dengan rapi, dan berdoa sendiri. Kemudian ajari anak etika saat makan seperti tidak mengeluarkan suara saat mengunyah, dan lain-lain. Demikian juga seusai makan, minta anak berdoa, merapikan kursi, dan perlengkapan makannya sendiri.

6. Berkomunikasi
Maksudnya, berani menyapa orang lain, secara asertif menyampaikan gagasan, mengekspresikan emosinya, menawarkan bantuan, dan meminta tolong. Misal, ketika sedang berada di restoran, kita bisa meminta anak untuk mengambilkan menu dan memintanya membayarkan tagihan pada pelayan restoran. Tugas sederhana ini selain melatih keberanian, juga memberinya pengalaman berinteraksi dengan orang lain.

Sumber: Putri Guenantine, SPsi, konselor Personal Growth, Jakarta
(Tabloid Nakita/Gazali Solahuddin)

Share |
Meskipun masih berusia prasekolah (3-6 tahun), anak sudah memiliki kemampuan untuk menolong diri sendiri seperti makan, minum, mengenakan baju, sepatu, dan kaus kaki sendiri. Sayangnya, banyak orangtua dengan beberapa alasan mengabaikan hal ini. "Kapan gemuknya kalau anak makan sendiri? Makannya sedikit, lama, berantakan lagi!"

Padahal, jika ingin mencetak anak unggul, orangtua seharusnya memberikan kesempatan seluas-luasnya pada anak untuk menolong dirinya sendiri. Pasti ada banyak aspek perkembangan yang dapat terasah dengan mengajari anak menolong diri sendiri. Saat mengajari anak makan sendiri, bukan hanya agar ia terampil makan sendiri, tetapi juga melatih motorik halusnya. Begitupun kemampuan berbahasanya, ikut tertempa.

Dengan banyak kemampuan yang dimiliki, kompetensi anak pun terdongkrak karena ia merasa bisa melakukan ini dan itu sendiri, sehingga kepercayaan dirinya meningkat. Karena itu, agar anak tumbuh menjadi sosok unggul, ia wajib diajarkan kemampuan menolong diri sendiri. Sebaliknya, bila ia kelewat dilayani dan dimanjakan, kemandiriannya bisa terhambat. Anak akan menjadi sangat bergantung pada orangtua, pengasuh, dan orang dewasa yang biasa ia jmintai bantuan. Ia tidak akan mampu menyelesaikan tugas-tugas perkembangannya sendiri.


Berikut ini beberapa hal yang penting dikuasai anak berkaitan dengan rutinitas sehari-harinya, dan cara menstimulasinya:

1. Menalikan sepatu
Perkenalkan dengan sepatu tanpa tali terlebih dahulu berikut kaus kakinya. Contohnya cara mengenakan dan melepaskannya. Setelah itu, minta anak melakukannya sendiri. Kita dapat mengatakan, "Coba pakai sepatunya sendiri." Setelah itu, "Lihat Ibu... satu, dua, tiga. Masuk kakinya ke sepatu." Ingat, jika anak telah mampu melakukannya sendiri, berikan dia reward berupa pelukan, ciuman, dan pujian.

2. BAK/BAB
Pertama yang diajarkan adalah berbicara saat hendak BAB/BAK. Memang agak sulit untuk menyampaikan hal tersebut, sebab kita tidak bisa mengonkretkannya pada anak. Namun, itu dapat disiasati lewat pembiasaan. Misalnya, setiap kali anak buang air kecil atau mengompol, yang umumnya diketahui dari gelagatnya seperti saat tidur anak gelisah, penisnya terlihat membesar, atau saat terjaga anak serta-merta menggerakkan badannya sebentar tanpa rencana. Saat itu, kita dapat membawa anak ke toilet untuk pipis. Lalu secara bertahap, ajari anak BAK/BAB sendiri, mulai membuka atau memelorotkan celana hingga duduk di kloset. Bila lubang kloset terlalu besar, beri tambahan dudukan kloset yang banyak dijual di pasaran.

3. Mengenakan baju dan celana
Pilih yang simpel seperti tanpa kancing atau resleting. Cara mengajarkannya sama dengan mengenakan sepatu. Ajak anak berkomunikasi dan berikan contoh, lalu berikan kesempatan padanya untuk mencoba melakukannya sendiri. Lakukan setiap kali anak selesai mandi, juga setiap dirinya ganti baju. Jika sudah berhasil, tingkatkan dengan baju dan celana atau rok berkancing.

4. Membereskan mainan sendiri
Minta anak membereskan sendiri mainannya ke tempat yang telah ditentukan. Dalam kesempatan ini kita juga dapat mengajarkan memilah mainan yang akan dimainkan. Jadi, anak hanya mengeluarkan mainan tertentu saja yang akan dimainkan. Ingat, kebiasaan jelek anak usia ini adalah mengeluarkan semua mainan dari wadah, padahal cuma satu atau tiga mainan saja yang dimainkan. Dengan pembiasaan seperti itu, anak akan lebih mudah membereskan mainannya.

5. Makan dan minum sendiri
Seiring dengan kemampuan motorik halusnya yang semakin baik, anak usia ini dapat makan sendiri tanpa banyak tumpah. Anak juga dapat memotong-motong sendiri makanan menjadi lebih kecil agar mudah dimakan. Kita hanya perlu mendampingi dan mengarahkan agar kemampuan anak semakin berkembang. Biarkan anak menikmati makanannya tanpa diburu-buru. Sebelum makan, minta anak mencuci dan mengeringkan tangannya sendiri, duduk dengan rapi, dan berdoa sendiri. Kemudian ajari anak etika saat makan seperti tidak mengeluarkan suara saat mengunyah, dan lain-lain. Demikian juga seusai makan, minta anak berdoa, merapikan kursi, dan perlengkapan makannya sendiri.

6. Berkomunikasi
Maksudnya, berani menyapa orang lain, secara asertif menyampaikan gagasan, mengekspresikan emosinya, menawarkan bantuan, dan meminta tolong. Misal, ketika sedang berada di restoran, kita bisa meminta anak untuk mengambilkan menu dan memintanya membayarkan tagihan pada pelayan restoran. Tugas sederhana ini selain melatih keberanian, juga memberinya pengalaman berinteraksi dengan orang lain.

Sumber: Putri Guenantine, SPsi, konselor Personal Growth, Jakarta
(Tabloid Nakita/Gazali Solahuddin)

Share |

6 Feb 2015

Tips Anak : Melatih Anak Menjadi Pemimpin.

Anak Anda punya bakat jadi pemimpin? Perhatikan, apakah ia selalu "mengatur" teman-temannya mengenai permainan apa yang akan dilakukan? Apakah teman-temannya dengan sukarela mengikuti kemauannya? Apakah ia selalu berani mengungkapkan pendapatnya, dan meminta untuk diberi kesempatan menyanyi atau berdoa di depan kelas?

Mungkin, belum semua anak menunjukkan perilaku yang menunjukkan karakter seorang pemimpin. Lalu, bagaimana cara mendorong mereka untuk mengembangkan perilaku kepemimpinan?


1. Tanyai pendapat mereka

Saat sedang bersama-sama di rumah, tanyakan pada mereka hal-hal seperti, "Kamu mau pakai kaus yang merah atau yang biru?" Atau, "Kamu mau susu cokelat atau vanila?" Dengan menjawab pertanyaan seperti ini, mereka melatih kemampuan berbicara asertif, dan bagaimana membuat keputusan yang baik.

2. Kenalkan mereka pada pemimpin
Ceritakan pada mereka mengenai sejumlah tokoh pemimpin, entah dari buku cerita, acara di TV, atau orang-orang yang ada di lingkungan Anda. Saat mereka melihat bagaimana pemimpin beraksi, mereka akan tahu bagaimana perilaku seorang pemimpin. Kelak, ia pun akan meniru tingkah laku tersebut.

3. Puji perilaku kepemimpinan mereka
Jika mereka tidak tahu apa yang Anda inginkan, mereka tak akan pernah melakukannya. Karena itu, saat Anda tahu mereka melakukan suatu tindakan memimpin atau membuat keputusan yang baik, sampaikan pada mereka. Katakan, "Nah, gitu dong! Ibu senang kalau kamu mau berbagi!"

4. Lakukan kegiatan yang membantu mereka menunjukkan kemampuan memimpin 
Kenalkan mereka pada kegiatan-kegiatan yang membantu mereka melakukan kemampuan memimpin. Misalnya, membantu mengatur barisan teman-temannya saat acara outing dari sekolah. Ketika mereka dibiasakan untuk melakukan hal-hal seperti ini, mereka juga akan mampu mempraktekkannya di rumah maupun di tempat lain. 

5. Bantu mereka menentukan tujuan pribadi 
Ketika mereka menentukan tujuan untuk diri mereka sendiri, yang tak ada hubungannya dengan kepentingan orang lain, otomatis mereka akan mendemonstrasikan kemampuan leadership. Sebab, mereka akan memimpin diri mereka sendiri.

Sumber: Shine

Share |
Anak Anda punya bakat jadi pemimpin? Perhatikan, apakah ia selalu "mengatur" teman-temannya mengenai permainan apa yang akan dilakukan? Apakah teman-temannya dengan sukarela mengikuti kemauannya? Apakah ia selalu berani mengungkapkan pendapatnya, dan meminta untuk diberi kesempatan menyanyi atau berdoa di depan kelas?

Mungkin, belum semua anak menunjukkan perilaku yang menunjukkan karakter seorang pemimpin. Lalu, bagaimana cara mendorong mereka untuk mengembangkan perilaku kepemimpinan?


1. Tanyai pendapat mereka

Saat sedang bersama-sama di rumah, tanyakan pada mereka hal-hal seperti, "Kamu mau pakai kaus yang merah atau yang biru?" Atau, "Kamu mau susu cokelat atau vanila?" Dengan menjawab pertanyaan seperti ini, mereka melatih kemampuan berbicara asertif, dan bagaimana membuat keputusan yang baik.

2. Kenalkan mereka pada pemimpin
Ceritakan pada mereka mengenai sejumlah tokoh pemimpin, entah dari buku cerita, acara di TV, atau orang-orang yang ada di lingkungan Anda. Saat mereka melihat bagaimana pemimpin beraksi, mereka akan tahu bagaimana perilaku seorang pemimpin. Kelak, ia pun akan meniru tingkah laku tersebut.

3. Puji perilaku kepemimpinan mereka
Jika mereka tidak tahu apa yang Anda inginkan, mereka tak akan pernah melakukannya. Karena itu, saat Anda tahu mereka melakukan suatu tindakan memimpin atau membuat keputusan yang baik, sampaikan pada mereka. Katakan, "Nah, gitu dong! Ibu senang kalau kamu mau berbagi!"

4. Lakukan kegiatan yang membantu mereka menunjukkan kemampuan memimpin 
Kenalkan mereka pada kegiatan-kegiatan yang membantu mereka melakukan kemampuan memimpin. Misalnya, membantu mengatur barisan teman-temannya saat acara outing dari sekolah. Ketika mereka dibiasakan untuk melakukan hal-hal seperti ini, mereka juga akan mampu mempraktekkannya di rumah maupun di tempat lain. 

5. Bantu mereka menentukan tujuan pribadi 
Ketika mereka menentukan tujuan untuk diri mereka sendiri, yang tak ada hubungannya dengan kepentingan orang lain, otomatis mereka akan mendemonstrasikan kemampuan leadership. Sebab, mereka akan memimpin diri mereka sendiri.

Sumber: Shine

Share |

Menjadi Orang Tua bisa Membuat Orang Lebih Baik

Dua dari Tiga orang merasa menjadi orangtua memperbaiki sikap dan sifat seseorang, setidaknya dalam urusan keuangan dan kesopanan. Hal ini didapat dari sebuah penelitian yang dilakukan oleh lembaga bernama Opinium Research ini terhadap sekitar 2 ribu penduduk Inggris berusia 18 tahun ke atas di awal tahun 2011 ini.

Nyaris setengah dari responden yang terlibat dalam penelitian ini mengatakan, memiliki anak membuat mereka menjadi pribadi yang lebih baik, terutama dalam hal keuangan, dan sekitar 29 persen responden mengatakan mereka merasa lebih menjaga kesopanan setelah menjadi orangtua.

Menjadi orangtua juga mendorong lebih dari seperempat ibu dan ayah baru untuk menjaga lingkungan, seperti dengan menggunakan barang-barang semaksimal mungkin, juga tidak membuang makanan. Para orangtua punya keinginan untuk memberikan kebiasaan-kebiasaan baik yang umumnya juga baru mereka lakukan ini kepada anak-anaknya. 


Memperbaiki sikap dan penanganan keuangan ada pada daftar teratas perubahan sikap yang dialami para orangtua, sekitar 3 dari 4 responden merasakan hal ini. Para responden yang berkeinginan anaknya memiliki kebiasaan penanganan keuangan yang lebih baik mengajarkan anak untuk menabung dan berdonasi (zakat atau persembahan).

Huw Davies, juru bicara Triodos Bank, yang membiayai penelitian ini mengatakan, memiliki anak adalah hal yang mendorong banyak orang untuk melaksanakan prinsip yang mereka rasa penting menjadi kenyataan. Karena para orangtua tahu, anak-anak mencontoh mereka, anak-anak banyak bertanya dan meminta jawaban serta alasan mengapa kita melakukan segala hal yang kita lakukan. Secara alamiah, orangtua akan merasa harus memberikan nilai-nilai yang mereka percayai kepada anak-anaknya, mengkombinasikan prioritas modern, seperti mendaur ulang, menjaga lingkungan, dengan prinsip-prinsip penting dalam hidup, seperti cara mengatur uang dan cara bersikap. 

10 prinsip tertinggi yang diajarkan orangtua di Inggris kepada anak-anaknya; 
1. Mengatur keuangan.
2. Selalu sopan dan menjaga sikap. 
3. Menggunakan barang-barang secukupnya. 
4. Menghindari makanan terbuang percuma. 
5. Meminimalisir penggunaan engeri. 
6. Menggunakan uang tabungan atau investasi pada hal yang berguna. 
7. Meluangkan waktu untuk melakukan tindakan baik. 
8. Berdonasi (zakat atau persembahan). 
9. Melakukan perubahan positif untuk masyarakat lewat pekerjaan atau karier. 
10. Memilih bentuk transportasi yang lebih aman untuk lingkungan. 

Dari studi tersebut, sekitar 68 persen ayah mengakui telah mengubah satu perubahan positif terhadap sikapnya sejak menjadi ayah. Sementara para ibu, sebanyak 74 persen bertekad untuk mengajarkan hal-hal baik pada anaknya. Sekitar 28 persen ibu menginginkan anaknya untuk menyisihkan waktu melakukan bakti sosial. Para ibu juga ingin anaknya lebih bisa mengatur uang dan tumbuh sebagai pribadi yang sopan serta bertingkah baik. 

Bagaimana dengan Anda? Apa perubahan dalam diri yang Anda rasakan sejak kehadiran si kecil dalam hidup Anda?

Sumber: thebabywebsite.com

Share |
Dua dari Tiga orang merasa menjadi orangtua memperbaiki sikap dan sifat seseorang, setidaknya dalam urusan keuangan dan kesopanan. Hal ini didapat dari sebuah penelitian yang dilakukan oleh lembaga bernama Opinium Research ini terhadap sekitar 2 ribu penduduk Inggris berusia 18 tahun ke atas di awal tahun 2011 ini.

Nyaris setengah dari responden yang terlibat dalam penelitian ini mengatakan, memiliki anak membuat mereka menjadi pribadi yang lebih baik, terutama dalam hal keuangan, dan sekitar 29 persen responden mengatakan mereka merasa lebih menjaga kesopanan setelah menjadi orangtua.

Menjadi orangtua juga mendorong lebih dari seperempat ibu dan ayah baru untuk menjaga lingkungan, seperti dengan menggunakan barang-barang semaksimal mungkin, juga tidak membuang makanan. Para orangtua punya keinginan untuk memberikan kebiasaan-kebiasaan baik yang umumnya juga baru mereka lakukan ini kepada anak-anaknya. 


Memperbaiki sikap dan penanganan keuangan ada pada daftar teratas perubahan sikap yang dialami para orangtua, sekitar 3 dari 4 responden merasakan hal ini. Para responden yang berkeinginan anaknya memiliki kebiasaan penanganan keuangan yang lebih baik mengajarkan anak untuk menabung dan berdonasi (zakat atau persembahan).

Huw Davies, juru bicara Triodos Bank, yang membiayai penelitian ini mengatakan, memiliki anak adalah hal yang mendorong banyak orang untuk melaksanakan prinsip yang mereka rasa penting menjadi kenyataan. Karena para orangtua tahu, anak-anak mencontoh mereka, anak-anak banyak bertanya dan meminta jawaban serta alasan mengapa kita melakukan segala hal yang kita lakukan. Secara alamiah, orangtua akan merasa harus memberikan nilai-nilai yang mereka percayai kepada anak-anaknya, mengkombinasikan prioritas modern, seperti mendaur ulang, menjaga lingkungan, dengan prinsip-prinsip penting dalam hidup, seperti cara mengatur uang dan cara bersikap. 

10 prinsip tertinggi yang diajarkan orangtua di Inggris kepada anak-anaknya; 
1. Mengatur keuangan.
2. Selalu sopan dan menjaga sikap. 
3. Menggunakan barang-barang secukupnya. 
4. Menghindari makanan terbuang percuma. 
5. Meminimalisir penggunaan engeri. 
6. Menggunakan uang tabungan atau investasi pada hal yang berguna. 
7. Meluangkan waktu untuk melakukan tindakan baik. 
8. Berdonasi (zakat atau persembahan). 
9. Melakukan perubahan positif untuk masyarakat lewat pekerjaan atau karier. 
10. Memilih bentuk transportasi yang lebih aman untuk lingkungan. 

Dari studi tersebut, sekitar 68 persen ayah mengakui telah mengubah satu perubahan positif terhadap sikapnya sejak menjadi ayah. Sementara para ibu, sebanyak 74 persen bertekad untuk mengajarkan hal-hal baik pada anaknya. Sekitar 28 persen ibu menginginkan anaknya untuk menyisihkan waktu melakukan bakti sosial. Para ibu juga ingin anaknya lebih bisa mengatur uang dan tumbuh sebagai pribadi yang sopan serta bertingkah baik. 

Bagaimana dengan Anda? Apa perubahan dalam diri yang Anda rasakan sejak kehadiran si kecil dalam hidup Anda?

Sumber: thebabywebsite.com

Share |

2 Feb 2015

Perkembangan Pertumbuhan Balita

Setiap rentang usia akan selalu ada perubahan pertumbuhan dan perkembangan balita. Pantau terus karena perkembangannya akan melibatkan kecerdasan, perasaan dan kemampuan sosialnya. Sebaiknya, perkembangan anak selaras dengan stimulasi yang menunjang kemajuannya. Segera atasi saat mengetahui keterlambatan pertumbuhannya.
Menyapih. Berdasarkan penelitian, jika anak telat disapih bisa memicunya menjadi pemilih terhadap makanan. Selain itu, menyapih menstimulasi anak agar lebih mandiri. Memasuki usia 1-2 tahun, Anda bisa mulai berlatih menyapihnya.
Pengenalan MPASI. Gangguan oral motor atau pergerakan motorik mulutnya semakin besar dan menyebabkan anak kesulitan dalam makan bahan makanan yang berserat dan bertekstur kasar, seperti sayur, daging dan nasi. Segera kenalkan ia ke berbagai makanan dengan tekstur, bentuk dan rasa baru.
Bicara. Setiap anak memiliki perkembangan kemampuan bicara yang berbeda. Jika anak Anda belum mengeluarkan satu kata pun di usianya yang ke-3, segera konsultasikan ke psikolog atau dokter anak.
Berjalan. Jika ia belum bisa berjalan sampai usianya 18 bulan, lakukan pemeriksaan neurologis, penilaian fleksibilitas sendi, kekuatan otot dan berbagai gerakan dengan ahli syaraf, sesuai dengan rekomendasi dokter anak.
Pindah kamar tidur. Semakin lama ia tidak memiliki kamar tidurnya sendiri, berdampak pada kemandiriannya di kemudian hari. Batas ruang pribadi perlu diberikan antara Anda dan si kecil agar ia mengerti bahwa Anda tidak 100 % untuknya.
Melatih toilet training. Tentunya semakin ia besar, akan semakin merepotkan Anda karena Anda masih harus membawa popok kemanapun. Jika tidak segera dilatih, ia tidak akan pernah bisa.(me)

Sumber : http://m.ayahbunda.co.id/article/mobArticleDetail.aspx?mc=001&smc=001&ar=2311&ec=04
Setiap rentang usia akan selalu ada perubahan pertumbuhan dan perkembangan balita. Pantau terus karena perkembangannya akan melibatkan kecerdasan, perasaan dan kemampuan sosialnya. Sebaiknya, perkembangan anak selaras dengan stimulasi yang menunjang kemajuannya. Segera atasi saat mengetahui keterlambatan pertumbuhannya.
Menyapih. Berdasarkan penelitian, jika anak telat disapih bisa memicunya menjadi pemilih terhadap makanan. Selain itu, menyapih menstimulasi anak agar lebih mandiri. Memasuki usia 1-2 tahun, Anda bisa mulai berlatih menyapihnya.
Pengenalan MPASI. Gangguan oral motor atau pergerakan motorik mulutnya semakin besar dan menyebabkan anak kesulitan dalam makan bahan makanan yang berserat dan bertekstur kasar, seperti sayur, daging dan nasi. Segera kenalkan ia ke berbagai makanan dengan tekstur, bentuk dan rasa baru.
Bicara. Setiap anak memiliki perkembangan kemampuan bicara yang berbeda. Jika anak Anda belum mengeluarkan satu kata pun di usianya yang ke-3, segera konsultasikan ke psikolog atau dokter anak.
Berjalan. Jika ia belum bisa berjalan sampai usianya 18 bulan, lakukan pemeriksaan neurologis, penilaian fleksibilitas sendi, kekuatan otot dan berbagai gerakan dengan ahli syaraf, sesuai dengan rekomendasi dokter anak.
Pindah kamar tidur. Semakin lama ia tidak memiliki kamar tidurnya sendiri, berdampak pada kemandiriannya di kemudian hari. Batas ruang pribadi perlu diberikan antara Anda dan si kecil agar ia mengerti bahwa Anda tidak 100 % untuknya.
Melatih toilet training. Tentunya semakin ia besar, akan semakin merepotkan Anda karena Anda masih harus membawa popok kemanapun. Jika tidak segera dilatih, ia tidak akan pernah bisa.(me)

Sumber : http://m.ayahbunda.co.id/article/mobArticleDetail.aspx?mc=001&smc=001&ar=2311&ec=04

30 Mar 2011

TIPS BAGAIMANA MEMBANTU ANAK MENGERJAKAN PR

MUNGKIN cara terbaik membantu anak anda dalam jangka panjang adalah menyediakan tempat yang tenang dan nyaman, di mana ia dapat membuat PR. Tempat yang tenang dan nyaman untuk bekerja dapat menambah konsentrasi untuk anak untuk membuat pekerjaan rumahnya dengan serius. Biasakan anak untuk menyisihkan waktu tertentu setiap hari guna menyelesaikan tugasnya.

Permintaan anak untuk membantunya dalam hal khusus kadang-kadang dapat membuat anda menjadi ragu. Anda tidak ingin ia berkubang dalam kebimbangan namun, anda juga tidak ingin mengerjakan tugasnya. Pendekatan terbaik adalah mendengarkan apa yang ditanyakan anak dan menawarkan strategi serta cara mengerjakannya, bukan memberikan jawaban. Misalnya, jangan mengatakan pada anak anda yang berusia enam tahun bagaimana mengucapkan sebuah kata, tetapi bantulah ia mengeja kata itu.

Bila anak mengalami kesulitan dalam tugasnya, bantulah ia berpikir, naluri anda akan mengatakan kapan anda harus memberikan jawaban yang tepat. Bila ia terus memerlukan bantuan, cobalah gunakan seorang pembimbing. Banyak orangtua merasa sulit untuk tetap obyektif bila ia harus mengajar anaknya sendiri.

Sumber: www.menuanak.com
MUNGKIN cara terbaik membantu anak anda dalam jangka panjang adalah menyediakan tempat yang tenang dan nyaman, di mana ia dapat membuat PR. Tempat yang tenang dan nyaman untuk bekerja dapat menambah konsentrasi untuk anak untuk membuat pekerjaan rumahnya dengan serius. Biasakan anak untuk menyisihkan waktu tertentu setiap hari guna menyelesaikan tugasnya.

Permintaan anak untuk membantunya dalam hal khusus kadang-kadang dapat membuat anda menjadi ragu. Anda tidak ingin ia berkubang dalam kebimbangan namun, anda juga tidak ingin mengerjakan tugasnya. Pendekatan terbaik adalah mendengarkan apa yang ditanyakan anak dan menawarkan strategi serta cara mengerjakannya, bukan memberikan jawaban. Misalnya, jangan mengatakan pada anak anda yang berusia enam tahun bagaimana mengucapkan sebuah kata, tetapi bantulah ia mengeja kata itu.

Bila anak mengalami kesulitan dalam tugasnya, bantulah ia berpikir, naluri anda akan mengatakan kapan anda harus memberikan jawaban yang tepat. Bila ia terus memerlukan bantuan, cobalah gunakan seorang pembimbing. Banyak orangtua merasa sulit untuk tetap obyektif bila ia harus mengajar anaknya sendiri.

Sumber: www.menuanak.com

20 Mar 2011

Tips Anak : Merangsang Kecerdasan Otak Anak

ORANG TUA mana yang tidak ingin anaknya cerdas. Namun, yang masih menjadi pertanyaan, apa saja yang dibutuhkan si kecil agar pertumbuhan otaknya menjadi optimal ? Otak merupakan benda yang paling vital dalam tubuh. Organ ini mengatur seluruh bagian dalam tubuh diantaranya gerakan motorik, pengaturan suhu tubuh, pengaturan tekanan darah, sekresi hormon,pernapasan, emosi dan berbagai macam kegiatan manusia. Berbagai proses dalam otak itu yakni peenambahan sel (poliferasi), perpindahan sel (migrasi), perubahan sel (differensiasi), pembentukan system jalinan saraf antara satu dengan lainnya (sinaptogenesis) dan pembentukan selubung saraf (mielinisasi). Yang penting dicatat, organ ini tumbuh secara luar biasa pada masa anak-anak. Sampai pada usia 2 tahun berat otak akan mencapai 75% otak dewasa. Menurut dr. Hartono Gunadi, Sp.A, dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, sampai dengan bayi berusia 2 tahun, pertumbuhan dan perkembangan otak anak telah mencapai 90%.


Factor yang paling penting untuk pembentukan otak adalah factor nutrisi untuk mendukung pembentukan sel-sel otak. Sebagai orang tua yang bertanggung jawab terhadap kehidupan annak, Anda perlu tahu nutrisi seperti apa yang berperan dalam pembentukan otak sang buah hati, mulai dari dalam kandungan hingga remaja.

Masih ada lagi hal yang penting pada proses pertumbuhan seorang anak, yakni proses tumbuh kembang. Makna pertumbuhan berkaitan dengan perubahan dalam besar, jumlah, ukuran, atau dimensi dalam tingkat sel, organ atau individu.

Sedangkan perkembangan lebih menitikberatkan pada aspek perubahan bentuk atau fungsi pematangan organ ataupun individu, termasuk perubahan aspek sosial atau emosional akibat pengaruh lingkungan. Yang jelas, untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan anak, Anda harus mengetahui factor dan aspek apa saja yang mempengaruhinya.

Peranan Nutrisi

Cikal bakal otak mulai terbentuk pada minggu ketiga kehamilan berupa lempeng saraf, berubah menjadi tabung saraf pada minggu keempat dan mulai terbentuk otak besar, batang otak, otak kecil dan medulla spinalis pada minggu kelima kehamilan.

Setelah bayi lahir, maka usia yang paling penting dalam pertumbuhan otak adalah 0-2 tahun. Periode tersebut penting karena masa ini adalah periode emas. Dalam periode inilah terjadi perkembangan saraf otak yang tercepat, khususnya mielinisasi. Selanjutnya memang terus terjadi perkembangan hingga usia 5 tahun, namun tidak secepat pada usia sebelumnya. Dalam masa ini maka yang terjadi adalah pengorganisasian perkembangan dan hubungan antar jaringan (impuls) otak.

Factor nutrisi berperan mulai dari kandungan, jadi seorang ibu yang hamil harus memperhatikan asupan gizi, bukan hanya untuk dirinya, juga untuk sang janin. Yang harus diperhatikan adalah protein dan asam lemak esensial.

Air susu ibu (ASI) adalah makanan terbaik untuk bayi. Setelah bayi lahir, kebutuhan zat gizi dilakukan melalui pemberian ASI Eksklusif sejak hari pertamanya sampai usia 6 bulan. Tapi setelah proses menyusui terlampaui, Anda harus memikirkan nutrisi sang anak.

Bagi Anda yang tak dapat menyusui anak karena sesuatu hal, pemilihan nutrisi untuk bayi harus dipertimbangkan dengan matang, demi perkembangan kecerdasannya. Nutrisi yang diyakini dapat meningkatkan kualitas otak anak adalah asam lemak DHA (asam dokosaheksanoat) dan AA (asam arakhidonat). Asam lemak ini merupakan asam lemak esensial, artinya tidak dapat dibentuk oleh tubuh sehingga harus ditambah dari luar.

Faktor Pendukung

Setelah otak seorang anak terbentuk, maka ada berbagai factor yang mempengaruhi perkembangannya. Teramat sayang bila anak Anda sudah memiliki sel-sel otak yang berkualitas, namun dibiarkan tanpa didukung perkembangannya.

Factor pendukung antara lain perhatian dan kasih sayang orang tua dan lingkungannya yang berpengaruh bagi aspek emosi. Mulai dari kontak fisik, sentuhan, belaian dan nyanyian.

Factor yang tak kalah pentingnya yaitu kebutuhan mental, misalnya proses pembelajaran, agama dan kepribadian. Factor pendukung inilah yang dapat menjadi stimulasi bagi perkembangan otak anak, juga akan mengaktifkan sel otak anak Anda sehingga perkembangannya akan lebih terpacu. Stimulasi ini penting sekali, sebab, jaringan saraf otak akan hilang dengan sendirinya apabila jarang atau tidak pernah sama sekali mendapat stimulasi.

Stimulasi pada anak dapat diterima melalui sentuhan, pendengaran, penglihatan, pengecapan yang kesemuanya sudah dapat diproses sejak bayi baru lahir. Pemprosesan informasi atau stimulasi dari luar tergantung dari takaran dan derajat stimulasi yang diterima serta kemampuan si anak memproses stimulasi tersebut.

Interaksi orangtua dengan penuh kasih sayang dapat merangsang imajinasi dan gagasan kreatif anak. Stimulasi dapat dimulai dari dalam kandungan. Contohnya, si ibu yang hamil bisa mendengarkan musik sambil mengelus perutnya.

Contoh lain stimulasi setelah anak lahir adalah dengan bercerita atau mendongeng. Mendongeng selain dapat mengajarkan kata-kata, juga dapat menjadi simbolisasi pendidikan. Misalnya bagaimana berbuat baik dan bagaimana memecahkan suatu masalah.

Kemudian permainan juga merupakan stimulasi yang sangat tepat bagi anak. Usahakan memberi variasi permainan dan sangat baik kalau orangtua melibatkan diri secara langsung dalam permainan. Perlu diingat juga, jangan selalu melarang anak melakukan aktivitas sepanjang tidak berbahaya.

Sumber:http://www.bayisehat.com/child-development-mainmenu-35/772-merangsang-kecerdasan-anak.html  

ORANG TUA mana yang tidak ingin anaknya cerdas. Namun, yang masih menjadi pertanyaan, apa saja yang dibutuhkan si kecil agar pertumbuhan otaknya menjadi optimal ? Otak merupakan benda yang paling vital dalam tubuh. Organ ini mengatur seluruh bagian dalam tubuh diantaranya gerakan motorik, pengaturan suhu tubuh, pengaturan tekanan darah, sekresi hormon,pernapasan, emosi dan berbagai macam kegiatan manusia. Berbagai proses dalam otak itu yakni peenambahan sel (poliferasi), perpindahan sel (migrasi), perubahan sel (differensiasi), pembentukan system jalinan saraf antara satu dengan lainnya (sinaptogenesis) dan pembentukan selubung saraf (mielinisasi). Yang penting dicatat, organ ini tumbuh secara luar biasa pada masa anak-anak. Sampai pada usia 2 tahun berat otak akan mencapai 75% otak dewasa. Menurut dr. Hartono Gunadi, Sp.A, dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, sampai dengan bayi berusia 2 tahun, pertumbuhan dan perkembangan otak anak telah mencapai 90%.


Factor yang paling penting untuk pembentukan otak adalah factor nutrisi untuk mendukung pembentukan sel-sel otak. Sebagai orang tua yang bertanggung jawab terhadap kehidupan annak, Anda perlu tahu nutrisi seperti apa yang berperan dalam pembentukan otak sang buah hati, mulai dari dalam kandungan hingga remaja.

Masih ada lagi hal yang penting pada proses pertumbuhan seorang anak, yakni proses tumbuh kembang. Makna pertumbuhan berkaitan dengan perubahan dalam besar, jumlah, ukuran, atau dimensi dalam tingkat sel, organ atau individu.

Sedangkan perkembangan lebih menitikberatkan pada aspek perubahan bentuk atau fungsi pematangan organ ataupun individu, termasuk perubahan aspek sosial atau emosional akibat pengaruh lingkungan. Yang jelas, untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan anak, Anda harus mengetahui factor dan aspek apa saja yang mempengaruhinya.

Peranan Nutrisi

Cikal bakal otak mulai terbentuk pada minggu ketiga kehamilan berupa lempeng saraf, berubah menjadi tabung saraf pada minggu keempat dan mulai terbentuk otak besar, batang otak, otak kecil dan medulla spinalis pada minggu kelima kehamilan.

Setelah bayi lahir, maka usia yang paling penting dalam pertumbuhan otak adalah 0-2 tahun. Periode tersebut penting karena masa ini adalah periode emas. Dalam periode inilah terjadi perkembangan saraf otak yang tercepat, khususnya mielinisasi. Selanjutnya memang terus terjadi perkembangan hingga usia 5 tahun, namun tidak secepat pada usia sebelumnya. Dalam masa ini maka yang terjadi adalah pengorganisasian perkembangan dan hubungan antar jaringan (impuls) otak.

Factor nutrisi berperan mulai dari kandungan, jadi seorang ibu yang hamil harus memperhatikan asupan gizi, bukan hanya untuk dirinya, juga untuk sang janin. Yang harus diperhatikan adalah protein dan asam lemak esensial.

Air susu ibu (ASI) adalah makanan terbaik untuk bayi. Setelah bayi lahir, kebutuhan zat gizi dilakukan melalui pemberian ASI Eksklusif sejak hari pertamanya sampai usia 6 bulan. Tapi setelah proses menyusui terlampaui, Anda harus memikirkan nutrisi sang anak.

Bagi Anda yang tak dapat menyusui anak karena sesuatu hal, pemilihan nutrisi untuk bayi harus dipertimbangkan dengan matang, demi perkembangan kecerdasannya. Nutrisi yang diyakini dapat meningkatkan kualitas otak anak adalah asam lemak DHA (asam dokosaheksanoat) dan AA (asam arakhidonat). Asam lemak ini merupakan asam lemak esensial, artinya tidak dapat dibentuk oleh tubuh sehingga harus ditambah dari luar.

Faktor Pendukung

Setelah otak seorang anak terbentuk, maka ada berbagai factor yang mempengaruhi perkembangannya. Teramat sayang bila anak Anda sudah memiliki sel-sel otak yang berkualitas, namun dibiarkan tanpa didukung perkembangannya.

Factor pendukung antara lain perhatian dan kasih sayang orang tua dan lingkungannya yang berpengaruh bagi aspek emosi. Mulai dari kontak fisik, sentuhan, belaian dan nyanyian.

Factor yang tak kalah pentingnya yaitu kebutuhan mental, misalnya proses pembelajaran, agama dan kepribadian. Factor pendukung inilah yang dapat menjadi stimulasi bagi perkembangan otak anak, juga akan mengaktifkan sel otak anak Anda sehingga perkembangannya akan lebih terpacu. Stimulasi ini penting sekali, sebab, jaringan saraf otak akan hilang dengan sendirinya apabila jarang atau tidak pernah sama sekali mendapat stimulasi.

Stimulasi pada anak dapat diterima melalui sentuhan, pendengaran, penglihatan, pengecapan yang kesemuanya sudah dapat diproses sejak bayi baru lahir. Pemprosesan informasi atau stimulasi dari luar tergantung dari takaran dan derajat stimulasi yang diterima serta kemampuan si anak memproses stimulasi tersebut.

Interaksi orangtua dengan penuh kasih sayang dapat merangsang imajinasi dan gagasan kreatif anak. Stimulasi dapat dimulai dari dalam kandungan. Contohnya, si ibu yang hamil bisa mendengarkan musik sambil mengelus perutnya.

Contoh lain stimulasi setelah anak lahir adalah dengan bercerita atau mendongeng. Mendongeng selain dapat mengajarkan kata-kata, juga dapat menjadi simbolisasi pendidikan. Misalnya bagaimana berbuat baik dan bagaimana memecahkan suatu masalah.

Kemudian permainan juga merupakan stimulasi yang sangat tepat bagi anak. Usahakan memberi variasi permainan dan sangat baik kalau orangtua melibatkan diri secara langsung dalam permainan. Perlu diingat juga, jangan selalu melarang anak melakukan aktivitas sepanjang tidak berbahaya.

Sumber:http://www.bayisehat.com/child-development-mainmenu-35/772-merangsang-kecerdasan-anak.html  

19 Mar 2011

Yoga untuk Anak dapat Melatih Kesehatan Fisik, Mental dan Spiritual

Yoga dapat melatih kesehatan fisik, mental dan spiritual. Gerakan yoga yang bervariasi mempertajam organs of perception (panca indera) dan konsentrasi anak menjadi lebih lama. Keduanya merupakan fondasi pertumbuhan dan intelegensia anak. Selain itu, bermanfaat bagi kesehatan sistem pernapasan dan sirkulasi.

Rita Kosasih, Certified Iyengar Yoga Teacher, mengatakan variasi gerakan yoga melatih anak untuk fokus melalui mata. Melalui mata, anak dilatih untuk atentif (sadar terhadap situasi di sekitarnya) dan secara alamiah membangun kekuatan untuk konsentrasi tanpa adanya paksaan, karena mengajarkan yoga untuk anak dilakukan seperti bermain. “Ketika mata anak stabil dalam membuat gerakan, maka pikiran menjadi stabil, dengan demikian proses belajar pun menjadi lebih mudah,” terang Rita.

Selain itu, menurut Rita, beberapa gerakan yoga juga bermanfaat bagi kesehatan fisik seperti sistem pernapasan dan sirkulasi. “Gerakan yoga seperti Ustrasana, Dhanurasana, Urdvhamuka svanasana, adalah gerakan yang membuat kapasitas paru-paru membesar, energi serta oksigen yang terserap menjadi lebih besar, dan secara alamiah membangun rasa percaya diri dan will power (semangat dan kemauan) pada anak,” ungkapnya. “Sistem sirkulasi dalam tubuh juga tidak kalah penting. Gerakan yoga yang bervariasi membuat darah mengalir ke setiap bagian tubuh dengan lebih sempurna, membuang toksin (racun) dalam tubuh, sehingga membangun sistem imunitas tubuh menjadi lebih baik,” lanjut Rita. 


Menurut Rita, yoga adalah investasi yang tak ternilai untuk anak-anak. Melihat besarnya manfaat yoga bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. “Penting diketahui, untuk menghindari kesalahan gerakan dan kemungkinan cedera, gerakan yoga sebaiknya dilakukan dibawah pengawasan instruktur yoga,” terangnya. 

Sumber:http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/Bayi/Psikologi/yoga.melatih.konsentrasi.panca.indera.dan.kesehatan.fisik/001/007/837/1

Yoga dapat melatih kesehatan fisik, mental dan spiritual. Gerakan yoga yang bervariasi mempertajam organs of perception (panca indera) dan konsentrasi anak menjadi lebih lama. Keduanya merupakan fondasi pertumbuhan dan intelegensia anak. Selain itu, bermanfaat bagi kesehatan sistem pernapasan dan sirkulasi.

Rita Kosasih, Certified Iyengar Yoga Teacher, mengatakan variasi gerakan yoga melatih anak untuk fokus melalui mata. Melalui mata, anak dilatih untuk atentif (sadar terhadap situasi di sekitarnya) dan secara alamiah membangun kekuatan untuk konsentrasi tanpa adanya paksaan, karena mengajarkan yoga untuk anak dilakukan seperti bermain. “Ketika mata anak stabil dalam membuat gerakan, maka pikiran menjadi stabil, dengan demikian proses belajar pun menjadi lebih mudah,” terang Rita.

Selain itu, menurut Rita, beberapa gerakan yoga juga bermanfaat bagi kesehatan fisik seperti sistem pernapasan dan sirkulasi. “Gerakan yoga seperti Ustrasana, Dhanurasana, Urdvhamuka svanasana, adalah gerakan yang membuat kapasitas paru-paru membesar, energi serta oksigen yang terserap menjadi lebih besar, dan secara alamiah membangun rasa percaya diri dan will power (semangat dan kemauan) pada anak,” ungkapnya. “Sistem sirkulasi dalam tubuh juga tidak kalah penting. Gerakan yoga yang bervariasi membuat darah mengalir ke setiap bagian tubuh dengan lebih sempurna, membuang toksin (racun) dalam tubuh, sehingga membangun sistem imunitas tubuh menjadi lebih baik,” lanjut Rita. 


Menurut Rita, yoga adalah investasi yang tak ternilai untuk anak-anak. Melihat besarnya manfaat yoga bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. “Penting diketahui, untuk menghindari kesalahan gerakan dan kemungkinan cedera, gerakan yoga sebaiknya dilakukan dibawah pengawasan instruktur yoga,” terangnya. 

Sumber:http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/Bayi/Psikologi/yoga.melatih.konsentrasi.panca.indera.dan.kesehatan.fisik/001/007/837/1

15 Mar 2011

Tips Anak : Mengatasi Anak Sulit Makan

Orang Indonesia bisa menyontoh Jepang yang memiliki kebiasaan membentuk makanan. Kreasi bentuk makanan tak hanya mempercantik hidangan, namun juga menarik perhatian sekaligus membangkitkan selera makan. Kebiasaan membentuk atau mencetak makanan juga bisa mengatasi sulit makan pada anak.

Chef Haryo Pramoe, pakar kuliner yang juga mantan pembawa acara Harmoni Alam di TV swasta, mengatakan, orang Indonesia tak punya kebiasaan membentuk makanan. Padahal dengan membentuk, mencetak, atau menghias makanan, ibu bisa menunjukkan kecintaan terhadap anak sekaligus membangkitkan selera bagi anak yang sulit makan.

"Memang dibutuhkan sedikit usaha dari ibu untuk menghias makanan, namun hal ini menunjukkan kecintaan ibu terhadap anak," katanya di sela acara "Sustagen 100% Nutrition Day Gathering", di fX Jakarta, Sabtu (26/3/2011) lalu.


Menurut Chef Haryo, ibu perlu melibatkan anak dalam mempersiapkan makanan untuk menumbuhkan tanggungjawab terhadap makanannya. Orangtua juga perlu membebaskan anak "bermain" dengan makanan saat menyiapkan hidangan, tentunya dengan pengawasan dan pendampingan. Food shaper yang berasal dari Jepang bisa digunakan sebagai salah satu alat permainan dalam memasak untuk anak.

"Bagi orangtua memasak mungkin biasa saja, tetapi anak mendapatkan pengalaman berbeda dari memasak. Inilah pentingnya memasak untuk anak, mereka mendapatkan pengalaman menyenangkan karena bisa bermain dengan makanan. Melibatkan anak saat memasak juga membuat anak bisa merasakan tekstur makanan, memiliki keterampilan, dan menjadi lebih mandiri saat dewasa," jelas Chef Haryo.

Tugas orangtua adalah memerhatikan kandungan gizi dalam makanan, dan mengkreasikan masakan agar anak menyukai waktu makan. Kreasi makanan melalui food shaper, kata Chef Haryo, menarik bagi anak karena ukuran makanan lebih kecil. Meski begitu mencetak atau membentuk makanan dengan food shaper tak lantas mengurangi kebutuhan makan anak.

"Membentuk makanan dengan food shaper harus dipadatkan, jadi meski ukurannya kecil isinya padat dan asupan nutrisinya tetap terpenuhi," lanjutnya.

Food shaper dari Sustagen disebutkan Chef Haryo sebagai contohnya. Menurutnya food shaper ini memenuhi kebutuhan makanan anak. Anak membutuhkan 50gr karbohidrat per satu porsi makanan, sama dengan setengah dari kebutuhan orang dewasa.

"Satu sisi dari food shaper ini memenuhi kebutuhan 20-30 gr karbohidrat. Satu buah food shaper bisa dipecah dua," katanya.

Saat memasak karbohidrat, nasi misalnya, tambahkan potongan daging, ikan, ayam, atau seafood, serta sayuran yang dicacah kecil. Jadi saat dibentuk dengan food shaper, seluruh kebutuhan nutrisi terpenuhi, dari karbohidrat, protein, dan seratnya.

Alat masak yang juga bisa digunakan oleh anak-anak ini bisa Anda dapatkan setiap membeli dua buah Sustagen kotak ukuran 350 gr, atau satu Sustagen kaleng 800 gr selama Maret-April 2011. Anda akan mendapatkan enam bentuk food shaper, seperti beruang, ikan, bintang, mobil, kelinci, dan hati, masing-masing berwarna hijau, pink, kuning, biru, oranye, dan ungu.

Alat pencetak makanan ini tak hanya membuat anak tertarik melahap nasi goreng seafood berbentuk hati misalnya. Anda juga punya cara kreatif mengajak anak menyiapkan masakan atau bahkan memasak bersama. "Idealnya, anak bisa mulai diajak ke dapur bermain tepung dan telur saat usianya enam tahun, dengan pendampingan," tandas Chef Haryo.

Sumber:http://female.kompas.com/read/2011/03/27/10361611/.Food.Shaper.Mengatasi.Anak.Sulit.Makan

Orang Indonesia bisa menyontoh Jepang yang memiliki kebiasaan membentuk makanan. Kreasi bentuk makanan tak hanya mempercantik hidangan, namun juga menarik perhatian sekaligus membangkitkan selera makan. Kebiasaan membentuk atau mencetak makanan juga bisa mengatasi sulit makan pada anak.

Chef Haryo Pramoe, pakar kuliner yang juga mantan pembawa acara Harmoni Alam di TV swasta, mengatakan, orang Indonesia tak punya kebiasaan membentuk makanan. Padahal dengan membentuk, mencetak, atau menghias makanan, ibu bisa menunjukkan kecintaan terhadap anak sekaligus membangkitkan selera bagi anak yang sulit makan.

"Memang dibutuhkan sedikit usaha dari ibu untuk menghias makanan, namun hal ini menunjukkan kecintaan ibu terhadap anak," katanya di sela acara "Sustagen 100% Nutrition Day Gathering", di fX Jakarta, Sabtu (26/3/2011) lalu.


Menurut Chef Haryo, ibu perlu melibatkan anak dalam mempersiapkan makanan untuk menumbuhkan tanggungjawab terhadap makanannya. Orangtua juga perlu membebaskan anak "bermain" dengan makanan saat menyiapkan hidangan, tentunya dengan pengawasan dan pendampingan. Food shaper yang berasal dari Jepang bisa digunakan sebagai salah satu alat permainan dalam memasak untuk anak.

"Bagi orangtua memasak mungkin biasa saja, tetapi anak mendapatkan pengalaman berbeda dari memasak. Inilah pentingnya memasak untuk anak, mereka mendapatkan pengalaman menyenangkan karena bisa bermain dengan makanan. Melibatkan anak saat memasak juga membuat anak bisa merasakan tekstur makanan, memiliki keterampilan, dan menjadi lebih mandiri saat dewasa," jelas Chef Haryo.

Tugas orangtua adalah memerhatikan kandungan gizi dalam makanan, dan mengkreasikan masakan agar anak menyukai waktu makan. Kreasi makanan melalui food shaper, kata Chef Haryo, menarik bagi anak karena ukuran makanan lebih kecil. Meski begitu mencetak atau membentuk makanan dengan food shaper tak lantas mengurangi kebutuhan makan anak.

"Membentuk makanan dengan food shaper harus dipadatkan, jadi meski ukurannya kecil isinya padat dan asupan nutrisinya tetap terpenuhi," lanjutnya.

Food shaper dari Sustagen disebutkan Chef Haryo sebagai contohnya. Menurutnya food shaper ini memenuhi kebutuhan makanan anak. Anak membutuhkan 50gr karbohidrat per satu porsi makanan, sama dengan setengah dari kebutuhan orang dewasa.

"Satu sisi dari food shaper ini memenuhi kebutuhan 20-30 gr karbohidrat. Satu buah food shaper bisa dipecah dua," katanya.

Saat memasak karbohidrat, nasi misalnya, tambahkan potongan daging, ikan, ayam, atau seafood, serta sayuran yang dicacah kecil. Jadi saat dibentuk dengan food shaper, seluruh kebutuhan nutrisi terpenuhi, dari karbohidrat, protein, dan seratnya.

Alat masak yang juga bisa digunakan oleh anak-anak ini bisa Anda dapatkan setiap membeli dua buah Sustagen kotak ukuran 350 gr, atau satu Sustagen kaleng 800 gr selama Maret-April 2011. Anda akan mendapatkan enam bentuk food shaper, seperti beruang, ikan, bintang, mobil, kelinci, dan hati, masing-masing berwarna hijau, pink, kuning, biru, oranye, dan ungu.

Alat pencetak makanan ini tak hanya membuat anak tertarik melahap nasi goreng seafood berbentuk hati misalnya. Anda juga punya cara kreatif mengajak anak menyiapkan masakan atau bahkan memasak bersama. "Idealnya, anak bisa mulai diajak ke dapur bermain tepung dan telur saat usianya enam tahun, dengan pendampingan," tandas Chef Haryo.

Sumber:http://female.kompas.com/read/2011/03/27/10361611/.Food.Shaper.Mengatasi.Anak.Sulit.Makan

9 Mar 2011

Balita ku Mengunakan Tangan Kiri

Tak perlu cemas jika si 2 tahun lebih suka menggunakan tangan kiri. Arahkan saja agar trampil beraktivitas dengan tangan kanan dan kiri.

Bagaimana sebaiknya menanggapi dominasi tangan balita, sebagai salah satu faktor perkembangannya?

Kenali tangan mana yang dominan sedini mungkin, agar tidak salah membiasakan anak menggunakan tangan. Tahapan perkembangan dominasi tangan akan adalah: * 1-3 bulan: anak menyadari keberadaan sepasang tangannya.
* 3-6 bulan: anak mulai merai benda dengan kedua tangan.
* 6-18 bulan: anak memegang benda dengan salah satu tangan secara bergantian.
* 6-18 bulan: anak memegang benda dengan salah satu tangan secara bergantian.
* 18-24 bulan: anak cenderung menggunakan ekdua tangan secara bergantian saat beraktivitas.
* Lebih dari 24 bulan: anak mulai terlihat lebih sering menggunakan tangan dominanya saat beraktivitas.

Biarkan kondisi itu. Setelah mengetahui tangan dominantnya, biarkan ia aktif menggunakannya, tanpa intervensi. Sekali lagi, dominasi tangan bukan disebabkan oleh kebiasaan, tapi karena pengaturan kerja otak. Jadi memaksa anak menggunakan tangan berbeda dari tangan dominan di usia ini malah membuatnya bingung dan menghambat perkembangan motoriknya.

Latihan keseimbangan gerak. Ketika anak aktif menggunakan tangan dominanya, tangan lain tetap harus dilatih sebagai penyeimbang, karena begitulah prinsip koordinasi tangan bekerja. Misalnya, ketika balita mewarnai gambap pakai tangan kanan, ajari ia menggunakan tangan kiri untuk mencegah kertas abergerak. Demkian sebaliknya.

Hindari label tangan bagus versus jelek. Sehubungan dengan nilai sosial di dunia kanan, kita sering melabel “tangan manis” atau “tangan bagus” untuk tangan kanan. Hindari hal tersebut, sebab label menjadi stigma anak tentang penggunaan tangan. Sebagai gantinya, juluki “tangan aktif” pada tangan dominan dan “tangan tidak aktif” pad atangan tidak dominan.

Membiasakan fungsi sosial. Bila balita kidal, daripada memaksanya menggunakan tangan kanan, sebaiknya latih balita memahami fungsi sosial tangan. Bagi aktivitas anak dalam 2 kategori dan sesuaikan pemakaian.

* Untuk beraktivitas resiprokal berinteraksi dengan orang lain seperti bersalaman, memberi atau menerima, bantu balita memakai tangan kanan.
* Untuk aktivitas individual yaitu untuk diri sendiri seperti mewarnai dan makan, biarkan ia memakai tangan dominanya.

Sumber:http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/Balita/Psikologi/jika.balita.gemar.menggunakan.tangan.kiri/001/007/913/1
Tak perlu cemas jika si 2 tahun lebih suka menggunakan tangan kiri. Arahkan saja agar trampil beraktivitas dengan tangan kanan dan kiri.

Bagaimana sebaiknya menanggapi dominasi tangan balita, sebagai salah satu faktor perkembangannya?

Kenali tangan mana yang dominan sedini mungkin, agar tidak salah membiasakan anak menggunakan tangan. Tahapan perkembangan dominasi tangan akan adalah: * 1-3 bulan: anak menyadari keberadaan sepasang tangannya.
* 3-6 bulan: anak mulai merai benda dengan kedua tangan.
* 6-18 bulan: anak memegang benda dengan salah satu tangan secara bergantian.
* 6-18 bulan: anak memegang benda dengan salah satu tangan secara bergantian.
* 18-24 bulan: anak cenderung menggunakan ekdua tangan secara bergantian saat beraktivitas.
* Lebih dari 24 bulan: anak mulai terlihat lebih sering menggunakan tangan dominanya saat beraktivitas.

Biarkan kondisi itu. Setelah mengetahui tangan dominantnya, biarkan ia aktif menggunakannya, tanpa intervensi. Sekali lagi, dominasi tangan bukan disebabkan oleh kebiasaan, tapi karena pengaturan kerja otak. Jadi memaksa anak menggunakan tangan berbeda dari tangan dominan di usia ini malah membuatnya bingung dan menghambat perkembangan motoriknya.

Latihan keseimbangan gerak. Ketika anak aktif menggunakan tangan dominanya, tangan lain tetap harus dilatih sebagai penyeimbang, karena begitulah prinsip koordinasi tangan bekerja. Misalnya, ketika balita mewarnai gambap pakai tangan kanan, ajari ia menggunakan tangan kiri untuk mencegah kertas abergerak. Demkian sebaliknya.

Hindari label tangan bagus versus jelek. Sehubungan dengan nilai sosial di dunia kanan, kita sering melabel “tangan manis” atau “tangan bagus” untuk tangan kanan. Hindari hal tersebut, sebab label menjadi stigma anak tentang penggunaan tangan. Sebagai gantinya, juluki “tangan aktif” pada tangan dominan dan “tangan tidak aktif” pad atangan tidak dominan.

Membiasakan fungsi sosial. Bila balita kidal, daripada memaksanya menggunakan tangan kanan, sebaiknya latih balita memahami fungsi sosial tangan. Bagi aktivitas anak dalam 2 kategori dan sesuaikan pemakaian.

* Untuk beraktivitas resiprokal berinteraksi dengan orang lain seperti bersalaman, memberi atau menerima, bantu balita memakai tangan kanan.
* Untuk aktivitas individual yaitu untuk diri sendiri seperti mewarnai dan makan, biarkan ia memakai tangan dominanya.

Sumber:http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/Balita/Psikologi/jika.balita.gemar.menggunakan.tangan.kiri/001/007/913/1

2 Mar 2011

Tips Menata Rambut Bayi Supaya Cantik

“Rambut anak saya keriting! Saya sulit sekali membuatnya menjadi bayi yang cantik. Coba kalau rambut anak saya lurus....”

Akrab dengan kalimat tersebut? Atau Anda sendiri mengalaminya? Tenang... bu, Ayahbunda selalu punya solusinya! Contek saja gaya rambut bayi berikut!

1. Sedikit semportkan hair lotion agar gaya wetlook terlihat di rambut keriting tebalnya.
2. Kenakan bandana pink pada rambut tipisnya. Cantik, kan?
3. Bandana pada rambut tebal dan lurus juga cantik. Beri sedikit poni, penambah imut.
4. ‘Poni lempar’, sebutan trennya. Bayi laki-laki masih macho loh pakai gaya ini!
5. Wetlook selalu jadi pilihan rambut bayi laki-laki. Si rambut tebal di wetlook? Siapa takut!
6. Biar tipis, gaya mohawk jadi lebih oke dan tampak ‘macho’.
7. Mohawk ala Cruz Beckham untuk si lurus dan tebal.
8. Gaya kuncir dua masih bisa dipakai untuk rambut tipis.
9. Sematkan jepit pita atau jepit berbentuk binatang di rambut ikalnya.
10. Poni disisir ke depan, rambut belakang diberi sedikit gel agar terlihat jigrak. Rambut lurus pun jadi tidak biasa!

Sumber:http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/Bayi/Tips/tips.menata.rambut.bayi/001/005/980/30/1
“Rambut anak saya keriting! Saya sulit sekali membuatnya menjadi bayi yang cantik. Coba kalau rambut anak saya lurus....”

Akrab dengan kalimat tersebut? Atau Anda sendiri mengalaminya? Tenang... bu, Ayahbunda selalu punya solusinya! Contek saja gaya rambut bayi berikut!

1. Sedikit semportkan hair lotion agar gaya wetlook terlihat di rambut keriting tebalnya.
2. Kenakan bandana pink pada rambut tipisnya. Cantik, kan?
3. Bandana pada rambut tebal dan lurus juga cantik. Beri sedikit poni, penambah imut.
4. ‘Poni lempar’, sebutan trennya. Bayi laki-laki masih macho loh pakai gaya ini!
5. Wetlook selalu jadi pilihan rambut bayi laki-laki. Si rambut tebal di wetlook? Siapa takut!
6. Biar tipis, gaya mohawk jadi lebih oke dan tampak ‘macho’.
7. Mohawk ala Cruz Beckham untuk si lurus dan tebal.
8. Gaya kuncir dua masih bisa dipakai untuk rambut tipis.
9. Sematkan jepit pita atau jepit berbentuk binatang di rambut ikalnya.
10. Poni disisir ke depan, rambut belakang diberi sedikit gel agar terlihat jigrak. Rambut lurus pun jadi tidak biasa!

Sumber:http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/Bayi/Tips/tips.menata.rambut.bayi/001/005/980/30/1

7 Feb 2011

PERBEDAAN MENDASAR ANTARA ANAK LAKI LAKI DAN ANAK PEREMPUAN

Berdasarkan hasil penelitian para ahli atau yang didapat secara statistik, terdapat beberapa perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Baik dari segi biologis, motorik, kognitif, emosi, perilaku hingga kepribadian.

Perbedaan biologis
* Kromosomnya berbeda (anak laki-laki XY, anak perempuan XX)
* Jenis hormon berbeda (anak laki-laki memiliki hormon testosteron anak perempuan hormon esterogen)
* Struktur alat kelamin berbeda, antara penis dan vagina
* Ada perbedaan tinggi dan berat badan: anak laki-laki akan lebih tinggi dan berat dibanding perempuan, terutama setelah melewati masa pubertas.
* Ada perbedaan usia pubertas: anak perempuan lebih cepat puber dibanding anak laki-laki.
Perbedaan motorik
* Anak laki-laki lebih mengembangkan kemampuan motorik kasar karena pengaruh hormon testosteron, ditambah minat dan dorongan budaya.
* Sebaliknya, anak perempuan lebih ke arah pengembangan motorik halus.
* Jenis gerakan dan level aktivitas lebih tinggi pada anak laki-laki dibanding anak perempuan, sehingga anak laki-laki terkesan lebih kasar, sedangkan anak perempuan lebih halus.

Perbedaan kognitif
* Jenis kecerdasan berbeda, meskipun secara umum kecerdasan anak laki-laki dan anak perempuan kurang lebih sama.
* Daya ingat jangka panjang anak perempuan lebih baik, sedangkan anak laki-laki lebih baik dalam ingatan jangka pendek.
* Anak perempuan lebih cepat belajar berbicara, kata-katanya lebih bervariasi, struktur kalimatnya lebih teratur. Hal ini disebabkan karena anak perempuan memiliki kebutuhan afeksi lebih tinggi, yang dapat terpenuhi lewat komunikasi.
* Anak laki-laki lebih pintar secara spasial. Mereka lebih cepat ingat rute menuju rumah atau tempat favorit mereka. Mereka juga lebih cepat menangkap perbedaan bentuk dan perbedaan ukuran dari dua benda yang dibandingkan.
* Kecerdasan dan nalar matematika anak laki-laki dan perempuan relatif sama. Namun anak perempuan cenderung mengerjakan soal seperti yang diajarkan guru, sedangkan anak laki-laki lebih inovatif dan kreatif dalam memecahkan masalah matematika. Ini juga disebabkan karena anak laki-laki jarang hafal apa yang diajarkan gurunya, sehingga mencari cara pemecahannya sendiri.

Perbedaan emosi
* Anak perempuan lebih ekspresif menunjukan emosi sedih/kecewa, misalnya dengan menangis.
* Anak laki-laki lebih ekspresif dalam mengungkapkan kemarahan, misalnya dengan membanting barang atau menendang mainannya.
* Cara mengatasi stress berbeda. Perempuan dengan menjalin relasi, laki-laki dengan segera mencari solusi.
* Anak perempuan lebih sensitif terhadap perasaan orang, dibanding anak laki-laki.

Perbedaan perilaku
* Anak perempuan lebih mudah berempati, sehingga lebih mudah mengulurkan bantuan dibanding anak laki-laki.
* Anak laki-laki lebih banyak melakukan permainan fisik, dibanding anak perempuan.
* Dalam pengambilkan risiko, anak laki-laki lebih agresif. Anak laki-laki diuntungkan dengan kemampuannya melakukan permainan fisik ditambah pengaruh hormon testosteron. Tuntutan lingkungan juga mengakibatkan anak laki-laki lebih berani mengambil risiko.
* Anak laki-laki dan anak perempuan kenakalan yang sama, namun anak perempuan lebih mengekspresikannya ke ekspresi verbal, misalnya menjelekkan orang lain, sedangkan anak laki-laki lebih ke perilaku.

Perbedaan kepribadian
* Anak perempuan lebih banyak lahir dengan temperamen easy going atau mudah, sementara anak laki-laki lebih banyak masuk ke kategori difficult atau sulit. Lihat saja waktu menyusui, anak perempuan lebih mudah dipuaskan, sedangkan anak laki-laki lebih rewel.
* Beberapa gangguan psikologis lebih banyak diderita oleh anak laki-laki dibanding anak perempuan, seperti tuna grahita, atau spektrum autisme.
* Kesulitan belajar (learning disabilities) lebih banyak dialami laki-laki, misalnya hambatan membaca (disleksia), hambatan menghitung (diskalkulia ) dan hambatan menulis (disgrafia).

Sumber:http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/Balita/Psikologi/perbedaan.antara.lakilaki.dan.perempuan/001/007/970/2
Berdasarkan hasil penelitian para ahli atau yang didapat secara statistik, terdapat beberapa perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Baik dari segi biologis, motorik, kognitif, emosi, perilaku hingga kepribadian.

Perbedaan biologis
* Kromosomnya berbeda (anak laki-laki XY, anak perempuan XX)
* Jenis hormon berbeda (anak laki-laki memiliki hormon testosteron anak perempuan hormon esterogen)
* Struktur alat kelamin berbeda, antara penis dan vagina
* Ada perbedaan tinggi dan berat badan: anak laki-laki akan lebih tinggi dan berat dibanding perempuan, terutama setelah melewati masa pubertas.
* Ada perbedaan usia pubertas: anak perempuan lebih cepat puber dibanding anak laki-laki.
Perbedaan motorik
* Anak laki-laki lebih mengembangkan kemampuan motorik kasar karena pengaruh hormon testosteron, ditambah minat dan dorongan budaya.
* Sebaliknya, anak perempuan lebih ke arah pengembangan motorik halus.
* Jenis gerakan dan level aktivitas lebih tinggi pada anak laki-laki dibanding anak perempuan, sehingga anak laki-laki terkesan lebih kasar, sedangkan anak perempuan lebih halus.

Perbedaan kognitif
* Jenis kecerdasan berbeda, meskipun secara umum kecerdasan anak laki-laki dan anak perempuan kurang lebih sama.
* Daya ingat jangka panjang anak perempuan lebih baik, sedangkan anak laki-laki lebih baik dalam ingatan jangka pendek.
* Anak perempuan lebih cepat belajar berbicara, kata-katanya lebih bervariasi, struktur kalimatnya lebih teratur. Hal ini disebabkan karena anak perempuan memiliki kebutuhan afeksi lebih tinggi, yang dapat terpenuhi lewat komunikasi.
* Anak laki-laki lebih pintar secara spasial. Mereka lebih cepat ingat rute menuju rumah atau tempat favorit mereka. Mereka juga lebih cepat menangkap perbedaan bentuk dan perbedaan ukuran dari dua benda yang dibandingkan.
* Kecerdasan dan nalar matematika anak laki-laki dan perempuan relatif sama. Namun anak perempuan cenderung mengerjakan soal seperti yang diajarkan guru, sedangkan anak laki-laki lebih inovatif dan kreatif dalam memecahkan masalah matematika. Ini juga disebabkan karena anak laki-laki jarang hafal apa yang diajarkan gurunya, sehingga mencari cara pemecahannya sendiri.

Perbedaan emosi
* Anak perempuan lebih ekspresif menunjukan emosi sedih/kecewa, misalnya dengan menangis.
* Anak laki-laki lebih ekspresif dalam mengungkapkan kemarahan, misalnya dengan membanting barang atau menendang mainannya.
* Cara mengatasi stress berbeda. Perempuan dengan menjalin relasi, laki-laki dengan segera mencari solusi.
* Anak perempuan lebih sensitif terhadap perasaan orang, dibanding anak laki-laki.

Perbedaan perilaku
* Anak perempuan lebih mudah berempati, sehingga lebih mudah mengulurkan bantuan dibanding anak laki-laki.
* Anak laki-laki lebih banyak melakukan permainan fisik, dibanding anak perempuan.
* Dalam pengambilkan risiko, anak laki-laki lebih agresif. Anak laki-laki diuntungkan dengan kemampuannya melakukan permainan fisik ditambah pengaruh hormon testosteron. Tuntutan lingkungan juga mengakibatkan anak laki-laki lebih berani mengambil risiko.
* Anak laki-laki dan anak perempuan kenakalan yang sama, namun anak perempuan lebih mengekspresikannya ke ekspresi verbal, misalnya menjelekkan orang lain, sedangkan anak laki-laki lebih ke perilaku.

Perbedaan kepribadian
* Anak perempuan lebih banyak lahir dengan temperamen easy going atau mudah, sementara anak laki-laki lebih banyak masuk ke kategori difficult atau sulit. Lihat saja waktu menyusui, anak perempuan lebih mudah dipuaskan, sedangkan anak laki-laki lebih rewel.
* Beberapa gangguan psikologis lebih banyak diderita oleh anak laki-laki dibanding anak perempuan, seperti tuna grahita, atau spektrum autisme.
* Kesulitan belajar (learning disabilities) lebih banyak dialami laki-laki, misalnya hambatan membaca (disleksia), hambatan menghitung (diskalkulia ) dan hambatan menulis (disgrafia).

Sumber:http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/Balita/Psikologi/perbedaan.antara.lakilaki.dan.perempuan/001/007/970/2

19 Jan 2011

ANAK MENGOMPOL : KESALAHAN YANG HARUS DI HINDARI ORANG TUA

Ketika mendapati anaknya masih mengompol, banyak orang tua yang bertindak untuk menghentikan kebiasaan buruk itu. Meskipun tujuannya baik, tidak semuanya tepat. Berikut adalah tiga kesalahan yang paling umum dilakukan:

1. Membangunkan anak
Beberapa orang tua membangunkan anak mereka di malam hari untuk mengarahkannya ke toilet. Mereka berusaha mencegah agar anaknya tidak bangun hanya setelah dia mengompol. Membangunkan anak seperti itu mengganggu kenyenyakan tidurnya. Padahal, tidur nyenyak sangatlah penting bagi anak usia sekolah. Kelelahan yang berlebihan dan tidur yang terganggu dapat menurunkan daya memori dan konsentrasinya. Hal ini dapat menurunkan prestasi belajar dan berdampak negatif pada harga diri anak.

Para ahli meragukan efektivitas membangunkan anak di malam hari untuk mencegah mengompol. Anak hanya dapat menahan diri dari mengompol bila memiliki kesadaran sendiri untuk pergi ke toilet. Jika anak masih mengantuk tetapi dibawa ke toilet, dia tidak akan belajar. Para ahli bahkan menduga bahwa pola tidur yang terganggu justru dapat menjadi sebab mengompol.

2. Menghukum anak
Menghukum atau memarahi anak yang mengompol bukanlah tindakan yang tepat. Anda juga sebaiknya tidak membandingkannya dengan anak-anak lain atau saudaranya, misalnya dengan berkata: “Kakakmu di usiamu sudah tidak mengompol!”. Persaingan anak itu hanya menambah tekanan dan tidak membantu memperbaiki situasi. Anak-anak yang stres dan tertekan justru cenderung melanjutkan kebiasaan mengompolnya.

Lebih baik Anda sebagai orang tua memberikan penghargaan dan pujian setiap kali anak Anda tidak mengompol dan mencapai kemajuan. Penghargaan semacam itu meningkatkan harga diri dan memberinya kepercayaan. Anda perlu menyadari bahwa mengompol juga tidak menyenangkan baginya karena membuatnya malu dan merasa tidak nyaman.

3. Berlebihan membatasi minum
Beberapa orang tua membatasi anak agar tidak minum beberapa jam sebelum tidur. Meskipun hal ini mungkin efektif, bila pembatasannya berlebihan dapat membuat anak kehausan di malam hari sehingga mengganggu kualitas tidurnya dan merugikan kesehatannya secara umum. Daripada membatasi minum dengan ketat, sebaiknya Anda membiasakan anak untuk mengosongkan kandung kemih sebelum berangkat tidur.

Singkatnya, para orang tua sebaiknya tetap tenang dan bersabar bila anaknya masih mengompol. Dalam kebanyakan kasus, kebiasaan mengompol akan hilang sendiri ketika anak beranjak besar.

Sumber:http://majalahkesehatan.com/anak-mengompol-3-kesalahan-yang-harus-dihindari-orangtua/
Ketika mendapati anaknya masih mengompol, banyak orang tua yang bertindak untuk menghentikan kebiasaan buruk itu. Meskipun tujuannya baik, tidak semuanya tepat. Berikut adalah tiga kesalahan yang paling umum dilakukan:

1. Membangunkan anak
Beberapa orang tua membangunkan anak mereka di malam hari untuk mengarahkannya ke toilet. Mereka berusaha mencegah agar anaknya tidak bangun hanya setelah dia mengompol. Membangunkan anak seperti itu mengganggu kenyenyakan tidurnya. Padahal, tidur nyenyak sangatlah penting bagi anak usia sekolah. Kelelahan yang berlebihan dan tidur yang terganggu dapat menurunkan daya memori dan konsentrasinya. Hal ini dapat menurunkan prestasi belajar dan berdampak negatif pada harga diri anak.

Para ahli meragukan efektivitas membangunkan anak di malam hari untuk mencegah mengompol. Anak hanya dapat menahan diri dari mengompol bila memiliki kesadaran sendiri untuk pergi ke toilet. Jika anak masih mengantuk tetapi dibawa ke toilet, dia tidak akan belajar. Para ahli bahkan menduga bahwa pola tidur yang terganggu justru dapat menjadi sebab mengompol.

2. Menghukum anak
Menghukum atau memarahi anak yang mengompol bukanlah tindakan yang tepat. Anda juga sebaiknya tidak membandingkannya dengan anak-anak lain atau saudaranya, misalnya dengan berkata: “Kakakmu di usiamu sudah tidak mengompol!”. Persaingan anak itu hanya menambah tekanan dan tidak membantu memperbaiki situasi. Anak-anak yang stres dan tertekan justru cenderung melanjutkan kebiasaan mengompolnya.

Lebih baik Anda sebagai orang tua memberikan penghargaan dan pujian setiap kali anak Anda tidak mengompol dan mencapai kemajuan. Penghargaan semacam itu meningkatkan harga diri dan memberinya kepercayaan. Anda perlu menyadari bahwa mengompol juga tidak menyenangkan baginya karena membuatnya malu dan merasa tidak nyaman.

3. Berlebihan membatasi minum
Beberapa orang tua membatasi anak agar tidak minum beberapa jam sebelum tidur. Meskipun hal ini mungkin efektif, bila pembatasannya berlebihan dapat membuat anak kehausan di malam hari sehingga mengganggu kualitas tidurnya dan merugikan kesehatannya secara umum. Daripada membatasi minum dengan ketat, sebaiknya Anda membiasakan anak untuk mengosongkan kandung kemih sebelum berangkat tidur.

Singkatnya, para orang tua sebaiknya tetap tenang dan bersabar bila anaknya masih mengompol. Dalam kebanyakan kasus, kebiasaan mengompol akan hilang sendiri ketika anak beranjak besar.

Sumber:http://majalahkesehatan.com/anak-mengompol-3-kesalahan-yang-harus-dihindari-orangtua/

MENCEGAH PEMBUSUKAN GIGI PADA ANAK ANDA

Pembusukan gigi atau dalam bahasa teknisnya disebut karies gigi dapat berdampak besar terhadap kepercayaan diri seorang anak dan menyebabkan masalah bagi gigi permanennya, karena gigi susu sangat penting dalam pengembangan gigi permanen. Gigi susu menyediakan ruang untuk gigi permanen, sehingga bila rusak maka gigi permanen dapat tumbuh tidak beraturan.

Sembilan tips berikut dapat mencegah pembusukan gigi pada anak-anak:

1. Mulailah membersihkan gigi anak sejak gigi pertama tumbuh, biasanya pada umur 6 bulan. Pembersihan dilakukan setiap malam sebelum tidur. Semakin muda Anda memulai, semakin mudah untuk mengembangkan kebiasaan itu. Anda dapat menempatkan kepala anak Anda di pangkuan agar menyikat gigi lebih menyenangkan dan efektif.
Bersihkan gusi dan gigi pertama bayi dengan kain kasa lembab atau sikat gigi kecil yang lembut. Untuk bayi dengan gigi lebih banyak, lumurkan sedikit pasta gigi anak-anak (sekitar sebutir beras) pada sikat gigi yang lembut.
2. Jadwalkan pemeriksaan rutin ke dokter gigi setidaknya 6 bulan sekali. Jangan menunggu sampai gigi anak bermasalah. Pemeriksaan rutin membantu menjaga kesehatan mulut anak Anda. Biarkan anak menjadi akrab dengan dokter gigi dan jangan menanamkan rasa takut padanya seperti sebagian orang tua yang sering mengancam anak-anak akan mencabut gigi mereka jika tidak menyikat gigi atau terlalu sering makan permen.
3. Pastikan anak menyikat gigi secara teratur dua kali sehari. Mulailah mengajarkan menyikat gigi ketika anak Anda sudah cukup besar, biasanya pada usia 2 tahun. Untuk memberi contoh, biarkan anak Anda melihat Anda sedang menyikat gigi. Anak-anak adalah peniru luar biasa dan tidak ada yang lebih baik dari orang tua dalam mencontohkan cara menyikat gigi kepada anak.
4. Siapkan makan siang anak Anda dengan makanan bergizi seperti buah-buahan, sayuran dan keju yang mengandung banyak kalsium dan rendah asam dan gula. Hindari makanan manis yang lengket dan mudah terjebak dalam gigi seperti kismis, dodol, karamel dan lolipop.
5. Karena bakteri penyebab kerusakan gigi dapat menular, jangan memasukkan sendok dan garpu ke mulut anak Anda jika sudah Anda pakai. Usahakan masing-masing anak memiliki sikat gigi sendiri.
6. Ketika berbelanja, pastikan untuk menyertakan beberapa sikat gigi baru dalam daftar Anda. Sikat gigi harus diganti setiap tiga bulan sekali. Pilih sikat gigi yang lembut dan kompak khusus untuk anak-anak.
7. Cobalah untuk tidak menggunakan pasta gigi fluoride ketika anak masih kecil karena mereka mungkin menelan pasta gigi itu tanpa sengaja. Sering menelan pasta gigi yang mengandung fluoride dapat menyebabkan enamel fluorosis. Untuk anak yang lebih besar, pilih pasta gigi lembut dengan fluoride berkadar rendah sampai usia 7 tahun.
8. Ganti gula dengan madu karena madu tidak kariogenik (menyebabkan karies gigi).
9. Jangan memberikan susu, jus atau minuman manis saat anak akan tidur. Cairan itu akan terperangkap di bawah bibir atas anak dan dapat menyebabkan gigi depan atas mereka membusuk.

Sumber:http://majalahkesehatan.com/9-tips-mencegah-pembusukan-gigi-pada-anak-anak/
Pembusukan gigi atau dalam bahasa teknisnya disebut karies gigi dapat berdampak besar terhadap kepercayaan diri seorang anak dan menyebabkan masalah bagi gigi permanennya, karena gigi susu sangat penting dalam pengembangan gigi permanen. Gigi susu menyediakan ruang untuk gigi permanen, sehingga bila rusak maka gigi permanen dapat tumbuh tidak beraturan.

Sembilan tips berikut dapat mencegah pembusukan gigi pada anak-anak:

1. Mulailah membersihkan gigi anak sejak gigi pertama tumbuh, biasanya pada umur 6 bulan. Pembersihan dilakukan setiap malam sebelum tidur. Semakin muda Anda memulai, semakin mudah untuk mengembangkan kebiasaan itu. Anda dapat menempatkan kepala anak Anda di pangkuan agar menyikat gigi lebih menyenangkan dan efektif.
Bersihkan gusi dan gigi pertama bayi dengan kain kasa lembab atau sikat gigi kecil yang lembut. Untuk bayi dengan gigi lebih banyak, lumurkan sedikit pasta gigi anak-anak (sekitar sebutir beras) pada sikat gigi yang lembut.
2. Jadwalkan pemeriksaan rutin ke dokter gigi setidaknya 6 bulan sekali. Jangan menunggu sampai gigi anak bermasalah. Pemeriksaan rutin membantu menjaga kesehatan mulut anak Anda. Biarkan anak menjadi akrab dengan dokter gigi dan jangan menanamkan rasa takut padanya seperti sebagian orang tua yang sering mengancam anak-anak akan mencabut gigi mereka jika tidak menyikat gigi atau terlalu sering makan permen.
3. Pastikan anak menyikat gigi secara teratur dua kali sehari. Mulailah mengajarkan menyikat gigi ketika anak Anda sudah cukup besar, biasanya pada usia 2 tahun. Untuk memberi contoh, biarkan anak Anda melihat Anda sedang menyikat gigi. Anak-anak adalah peniru luar biasa dan tidak ada yang lebih baik dari orang tua dalam mencontohkan cara menyikat gigi kepada anak.
4. Siapkan makan siang anak Anda dengan makanan bergizi seperti buah-buahan, sayuran dan keju yang mengandung banyak kalsium dan rendah asam dan gula. Hindari makanan manis yang lengket dan mudah terjebak dalam gigi seperti kismis, dodol, karamel dan lolipop.
5. Karena bakteri penyebab kerusakan gigi dapat menular, jangan memasukkan sendok dan garpu ke mulut anak Anda jika sudah Anda pakai. Usahakan masing-masing anak memiliki sikat gigi sendiri.
6. Ketika berbelanja, pastikan untuk menyertakan beberapa sikat gigi baru dalam daftar Anda. Sikat gigi harus diganti setiap tiga bulan sekali. Pilih sikat gigi yang lembut dan kompak khusus untuk anak-anak.
7. Cobalah untuk tidak menggunakan pasta gigi fluoride ketika anak masih kecil karena mereka mungkin menelan pasta gigi itu tanpa sengaja. Sering menelan pasta gigi yang mengandung fluoride dapat menyebabkan enamel fluorosis. Untuk anak yang lebih besar, pilih pasta gigi lembut dengan fluoride berkadar rendah sampai usia 7 tahun.
8. Ganti gula dengan madu karena madu tidak kariogenik (menyebabkan karies gigi).
9. Jangan memberikan susu, jus atau minuman manis saat anak akan tidur. Cairan itu akan terperangkap di bawah bibir atas anak dan dapat menyebabkan gigi depan atas mereka membusuk.

Sumber:http://majalahkesehatan.com/9-tips-mencegah-pembusukan-gigi-pada-anak-anak/

ANAK BICARA GAGAP, PERLUKAH DI TERAPI?

Gagap adalah gangguan bicara di mana suara, suku kata, atau kata-kata diucapkan berulang atau berkepanjangan sehingga mengganggu aliran normal berbicara. Sekitar 1% orang dewasa gagap, dimana 80% laki-laki dan 20% perempuan.
Gagap dapat dinyatakan dalam cara yang berbeda, misalnya:
* Mengulangi suara, suku kata atau kata (misalnya: meng-mengapa?)
* Menekan dan jeda setelah huruf pertama (misalnya: saya b……..lum mandi)
* Mengulang huruf tertentu (misalnya: saaaya ingiiin tidur)
* Ekspresi wajah dan kepala tertentu, berkeringat dan nafas tidak beraturan

Penyebab

Penyebab gagap tidak jelas. Karena gagap seringkali menurun dalam keluarga, mungkin ada kecenderungan genetik. Gagap juga dapat disebabkan pengalaman traumatis, setelah peristiwa hidup yang serius, atau karena takut, cemas dan gugup. Gagap diperparah saat penderitanya tertekan atau mendapatkan terlalu banyak perhatian.

Gagap sementara biasa dijumpai pada anak-anak. Sebagian besar anak mengembangkan kemampuan bahasa mereka pada usia 2-5 tahun. Dalam usia ini kecepatan berbicara tidak bisa selalu mengikuti kecepatan berpikir. Di sini, anak akan mengulang kata-kata tertentu sampai dia menemukan kata yang dicari. Setelah usia lima tahun, seharusnya anak sudah tidak lagi berbicara gagap atau terbata-bata.

Gagap mungkin juga terjadi setelah stroke, trauma kepala, atau jenis cedera otak lainnya. Gagap ini disebabkan otak kesulitan mengkoordinasi berbagai komponen yang terlibat dalam proses berbicara karena masalah saraf atau otot.

Terapi
Jika anak masih gagap setelah usia lima tahun, bicaralah dengan dokter anak atau ahli terapi wicara. Anda perlu berkonsultasi terutama bila:

* Kegagapan menjadi lebih parah dan lebih sering
* Anak lebih sulit berbicara atau tegang saat berbicara
* Anda melihat ketegangan vokal yang mengakibatkan meningkatnya nada dan volume suara
* Anak mencoba menghindari situasi yang memerlukan berbicara
* Anak mengubah kata-kata karena takut gagap

Dokter akan mendiagnosis gangguan wicara secara lebih akurat setelah mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk riwayat kasus si anak (seperti kapan kegagapan pertama kali terlihat dan dalam keadaan apa) dan perilaku kegagapan anak, dan merekomendasikan terapi apa yang harus dijalani.

Sumber:http://majalahkesehatan.com/anak-berbicara-gagap-perlukah-terapi/
Gagap adalah gangguan bicara di mana suara, suku kata, atau kata-kata diucapkan berulang atau berkepanjangan sehingga mengganggu aliran normal berbicara. Sekitar 1% orang dewasa gagap, dimana 80% laki-laki dan 20% perempuan.
Gagap dapat dinyatakan dalam cara yang berbeda, misalnya:
* Mengulangi suara, suku kata atau kata (misalnya: meng-mengapa?)
* Menekan dan jeda setelah huruf pertama (misalnya: saya b……..lum mandi)
* Mengulang huruf tertentu (misalnya: saaaya ingiiin tidur)
* Ekspresi wajah dan kepala tertentu, berkeringat dan nafas tidak beraturan

Penyebab

Penyebab gagap tidak jelas. Karena gagap seringkali menurun dalam keluarga, mungkin ada kecenderungan genetik. Gagap juga dapat disebabkan pengalaman traumatis, setelah peristiwa hidup yang serius, atau karena takut, cemas dan gugup. Gagap diperparah saat penderitanya tertekan atau mendapatkan terlalu banyak perhatian.

Gagap sementara biasa dijumpai pada anak-anak. Sebagian besar anak mengembangkan kemampuan bahasa mereka pada usia 2-5 tahun. Dalam usia ini kecepatan berbicara tidak bisa selalu mengikuti kecepatan berpikir. Di sini, anak akan mengulang kata-kata tertentu sampai dia menemukan kata yang dicari. Setelah usia lima tahun, seharusnya anak sudah tidak lagi berbicara gagap atau terbata-bata.

Gagap mungkin juga terjadi setelah stroke, trauma kepala, atau jenis cedera otak lainnya. Gagap ini disebabkan otak kesulitan mengkoordinasi berbagai komponen yang terlibat dalam proses berbicara karena masalah saraf atau otot.

Terapi
Jika anak masih gagap setelah usia lima tahun, bicaralah dengan dokter anak atau ahli terapi wicara. Anda perlu berkonsultasi terutama bila:

* Kegagapan menjadi lebih parah dan lebih sering
* Anak lebih sulit berbicara atau tegang saat berbicara
* Anda melihat ketegangan vokal yang mengakibatkan meningkatnya nada dan volume suara
* Anak mencoba menghindari situasi yang memerlukan berbicara
* Anak mengubah kata-kata karena takut gagap

Dokter akan mendiagnosis gangguan wicara secara lebih akurat setelah mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk riwayat kasus si anak (seperti kapan kegagapan pertama kali terlihat dan dalam keadaan apa) dan perilaku kegagapan anak, dan merekomendasikan terapi apa yang harus dijalani.

Sumber:http://majalahkesehatan.com/anak-berbicara-gagap-perlukah-terapi/

12 Jan 2011

HINDARI SINUSITIS PADA ANAK

Anak yang mengalami gejala sinusitis seperti pilek, hidung mampet dan batuk, akan mengalami infeksi saluran pernapasan atas (ISPA). Bagaimana cara mengantisipasi?

Sinusitis adalah radang di rongga hidung yang bermuara di lubang hidung (sinus paranasal) yang diibedakan atas

* sinusitis akut (infeksi timbul dalam hidungan hari hingga minggu)
* sinusitis sub-akut (infeksi timbul beberapa minggu hingga bulan)
* sinusitis kronik (infeksi timbul beberapa bulan sampai tahun).

Beberapa penyebab sinusitis, diantaranya:

* Serangan virus, jamur dan bakteri
* Infeksi pada kerongkongan, amandel dan gigi
* Kelainan anatomi hidung (misalnya, sekat pemisah lubang hidung kiri dan kanan tidak lurus), benda asing di hidung, tumor, polip, polusi lingkungan, udara dingin atau kering

Anak yang menderita sinusitis akan mengalami infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), berupa pilek dan batuk yang lama yakni lebih dari 7 hari. Ia juga mengalami demam, lesu, hidung tersumbat, ingus kental yang mengalir ke kerongkongan (post nasal drip), sakit kepala dan nyeri di daerah sinus yang terkena

Di malam hari, gejala sinusitis seperti pilek, hidung tersumbat dan batuk akan semakin parah. Semakin nyeri di daerah sinus yang terserang (di kiri dan kanan hidung atau di tengah alis mata)

Memburuknya gejala sinusitis pada malam hari itu disebabkan udara dingin yang membuat hidung semakin tersumbat, menimbulkan tekanan pada sinus sehingga timbul rasa nyeri.

Antisipasi

* Jaga suhu kamar agar tetap hangat
* Cegah jangan sampai sanak mengalami hidung tersumbat. Semisal dengan memberi obat tetes atau obat semprot hidung.

Sumber : http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/Gizi+dan+Kesehatan/antisipasi.alergi.sinusitis.anak/001/001/772/2/pernapasan/4
Anak yang mengalami gejala sinusitis seperti pilek, hidung mampet dan batuk, akan mengalami infeksi saluran pernapasan atas (ISPA). Bagaimana cara mengantisipasi?

Sinusitis adalah radang di rongga hidung yang bermuara di lubang hidung (sinus paranasal) yang diibedakan atas

* sinusitis akut (infeksi timbul dalam hidungan hari hingga minggu)
* sinusitis sub-akut (infeksi timbul beberapa minggu hingga bulan)
* sinusitis kronik (infeksi timbul beberapa bulan sampai tahun).

Beberapa penyebab sinusitis, diantaranya:

* Serangan virus, jamur dan bakteri
* Infeksi pada kerongkongan, amandel dan gigi
* Kelainan anatomi hidung (misalnya, sekat pemisah lubang hidung kiri dan kanan tidak lurus), benda asing di hidung, tumor, polip, polusi lingkungan, udara dingin atau kering

Anak yang menderita sinusitis akan mengalami infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), berupa pilek dan batuk yang lama yakni lebih dari 7 hari. Ia juga mengalami demam, lesu, hidung tersumbat, ingus kental yang mengalir ke kerongkongan (post nasal drip), sakit kepala dan nyeri di daerah sinus yang terkena

Di malam hari, gejala sinusitis seperti pilek, hidung tersumbat dan batuk akan semakin parah. Semakin nyeri di daerah sinus yang terserang (di kiri dan kanan hidung atau di tengah alis mata)

Memburuknya gejala sinusitis pada malam hari itu disebabkan udara dingin yang membuat hidung semakin tersumbat, menimbulkan tekanan pada sinus sehingga timbul rasa nyeri.

Antisipasi

* Jaga suhu kamar agar tetap hangat
* Cegah jangan sampai sanak mengalami hidung tersumbat. Semisal dengan memberi obat tetes atau obat semprot hidung.

Sumber : http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/Gizi+dan+Kesehatan/antisipasi.alergi.sinusitis.anak/001/001/772/2/pernapasan/4

10 Jan 2011

IDE BERMAIN SPONTAN DENGAN BALITA ANDA

Ide bermain datang, bahkan di saat-saat tak diatur. Di depan cermin, saat mandi, selagi makan, bahkan ketika sakit di tempat tidur. Bermain bisa di mana saja, balita pun senang!

Di Depan Cermin kamar mandi.
Ide bermain: “Melukis Kaca” – Buka mulut, embuskan napas beberapa kali hingga embun terkumpul di kaca. Atau, jika mandi pakai air panas, embun otomatis akan terkumpul di kaca. Dengan jari, ajak balita menggambar hati, happy face, atau apa saja di atas embun.
Manfaat: Menggali imajinasi, motorik halus, dan mengenalkan ilmu pengetahuan sederhana.
Mandi.
Ide bermain: “Tarian Handuk”- Taruh handuk ukuran tidak terlalu besar di kepala, bahu atau disampirkan di leher. Atau, putar-putar handuk ke kiri dan ke kanan, lempar ke atas dan tangkap, lilit handuk menyerupai ular, lalu gerakkan tubuh sambil menyanyikan lagu Bangun Tidur atau lagu apa saja yang disukai anak.
Manfaat: Menggali imajinasi, melatih motorik kasar, dan mengasah emosi.

Makan.
Ide bermain: “Air atau Darat?” – Saat menikmati sayuran, minta anak menebak, sayuran berasal dari air atau darat. Lakukan juga saat makan ikan, daging dan sebagainya.
Manfaat: Mengenalkan pengetahuan dan jenis makanan.

Di Tempat Tidur.
Ide bermain: “Laju Perahuku” – Ajak balita di atas guling, minta dia menggerakkan kedua tangan untuk ‘mendayung’ seperti saat berperahu. Goyangkan tubuh ke kiri dan ke kanan, kadang-kadang berteriak, “Awas ombak besar! Basah, deh!” Bisa juga katakan, “Sssstt, pelan-pelan mendayungnya, di sana ada ikan duyung sedang bermain. Halo ikan duyung, numpang lewat ya…”
Manfaat: Mengasah imajinasi dan motorik halus.

Sedang Sakit Pilek
Ide bermain: “Tisu Lipat Lucu” – Saat dia pilek dengan satu boks tisu di sampingnya, jadikan tisu menjadi bentuk-bentuk lucu. Pastikan kedua tangan bersih sebelum melakukannya. Ajak anak melipat tisu menjadi segi empat, segi panjang, segi tiga, perahu, bola, dan biarkan dia melipat sesuai keinginannya.
Manfaat: Mengasah imajinasi, motorik halus dan mengenal bentuk.
Ide bermain datang, bahkan di saat-saat tak diatur. Di depan cermin, saat mandi, selagi makan, bahkan ketika sakit di tempat tidur. Bermain bisa di mana saja, balita pun senang!

Di Depan Cermin kamar mandi.
Ide bermain: “Melukis Kaca” – Buka mulut, embuskan napas beberapa kali hingga embun terkumpul di kaca. Atau, jika mandi pakai air panas, embun otomatis akan terkumpul di kaca. Dengan jari, ajak balita menggambar hati, happy face, atau apa saja di atas embun.
Manfaat: Menggali imajinasi, motorik halus, dan mengenalkan ilmu pengetahuan sederhana.
Mandi.
Ide bermain: “Tarian Handuk”- Taruh handuk ukuran tidak terlalu besar di kepala, bahu atau disampirkan di leher. Atau, putar-putar handuk ke kiri dan ke kanan, lempar ke atas dan tangkap, lilit handuk menyerupai ular, lalu gerakkan tubuh sambil menyanyikan lagu Bangun Tidur atau lagu apa saja yang disukai anak.
Manfaat: Menggali imajinasi, melatih motorik kasar, dan mengasah emosi.

Makan.
Ide bermain: “Air atau Darat?” – Saat menikmati sayuran, minta anak menebak, sayuran berasal dari air atau darat. Lakukan juga saat makan ikan, daging dan sebagainya.
Manfaat: Mengenalkan pengetahuan dan jenis makanan.

Di Tempat Tidur.
Ide bermain: “Laju Perahuku” – Ajak balita di atas guling, minta dia menggerakkan kedua tangan untuk ‘mendayung’ seperti saat berperahu. Goyangkan tubuh ke kiri dan ke kanan, kadang-kadang berteriak, “Awas ombak besar! Basah, deh!” Bisa juga katakan, “Sssstt, pelan-pelan mendayungnya, di sana ada ikan duyung sedang bermain. Halo ikan duyung, numpang lewat ya…”
Manfaat: Mengasah imajinasi dan motorik halus.

Sedang Sakit Pilek
Ide bermain: “Tisu Lipat Lucu” – Saat dia pilek dengan satu boks tisu di sampingnya, jadikan tisu menjadi bentuk-bentuk lucu. Pastikan kedua tangan bersih sebelum melakukannya. Ajak anak melipat tisu menjadi segi empat, segi panjang, segi tiga, perahu, bola, dan biarkan dia melipat sesuai keinginannya.
Manfaat: Mengasah imajinasi, motorik halus dan mengenal bentuk.

2 Jan 2011

TIPS MENGHADAPI ANAK YANG SUKA MERENGEK

KOMPAS.COM — Menurut Laurel Schultz, MD, dokter anak, anak-anak merengek untuk alasan-alasan yang sangat sederhana. "Mereka merengek untuk mendapatkan perhatian orangtuanya," ujar Laurel. Rengekan dengan nada yang sangat tinggi bisa jadi hal yang sangat efektif karena secara naluriah, orangtua akan langsung menanggapinya.

Pencegahan


Schultz menerangkan, ini bukanlah strategi yang secara sadar dilakukan oleh anak-anak, melainkan sebuah kebiasaan yang ia pelajari, dan tak jarang pula orangtua memiliki peran di dalamnya. Jika anak meminta sesuatu dengan cara yang sopan, tetapi si orangtua tidak merespon, maka sekali-dua kali si anak bisa tahan. Namun berikutnya, ia pun akan menaikkan volumenya. Anak yang masih sangat kecil mungkin akan mengamuk dan menangis, tetapi untuk anak-anak yang lebih besar dan memiliki kontrol diri yang lebih baik, mereka akan merengek.
Untuk mencegah rengekan, Schultz menyarankan para orangtua agar jangan membuat si anak sangat stres baru diladeni. "Sangat penting untuk merespons pada tingkah pertama ketika si anak mulai minta perhatian Anda, sebisa mungkin. Misal, saat Anda sedang sibuk menelepon atau sedang berbincang dengan teman, dan si kecil mulai memanggil Anda, tatap matanya dan berikan tanda agar ia menunggu supaya ia tahu bahwa Anda akan berada bersamanya sebentar lagi. Kemudian, baru berikan perhatian kepadanya setelah Anda sudah mungkin untuk memerhatikannya," papar Schultz.

Merespons anak yang merengek


Ketika anak sudah telanjur merengek, Becky Bailey, PhD, psikolog tumbuh kembang anak, menyarankan agar para orangtua mencoba menenangkan dirinya dulu sebelum menghadapi si kecil. Ambillah napas dalam-dalam dan ingatkan diri sendiri bahwa si kecil bukan berusaha membuat Anda teriritasi, melainkan minta bantuan.

Responlah dengan pernyataan orang pertama dan contohkan cara bicara yang baik dan sopan. Misal, "Ibu (sebagai orang pertama) tidak suka kalau kamu merengek seperti tadi. Jika kalau kamu ingin segelas susu, maka bilang begini, 'Ibu, aku ingin susu'."

Jika Anda menemukan bahwa si kecil masih saja merengek dan Anda yakin bahwa itu bukan karena rasa sakit atau ketidaknyamanan fisik, maka Bailey menyarankan agar orangtua melihat di balik sikap tersebut untuk memutuskan apakah ada pesan lain yang lebih besar tersembunyi di baliknya. Tanyakan kepada diri Anda, apakah hari itu Anda lebih sibuk ketimbang biasanya? Apakah rutinitas si kecil berubah? Apakah si anak bungsu menyita perhatian Anda lebih banyak ketimbang si anak pertama? Kadang, rengekan merupakan pertanda untuk menjalin koneksi dengan si anak.

Untuk melakukan hal tersebut, orangtua disarankan untuk menghabiskan waktu lebih banyak untuk bersama, misalnya membaca buku bersama, memasak bersama, atau melakukan kegiatan lain yang disukai anak. "Menyisihkan beberapa menit untuk menjalin hubungan sekali-dua kali sehari dengan anak bisa mengubah banyak hal dalam keluarga dan menghadapi sikap dan sifat kurang menyenangkan dari anak," ujar Bailey. NAD

Editor: Nadia Felicia Sumber: WebMD
sumber : http://www.bayisehat.com/child-development-mainmenu-35/744-menghadapi-anak-yang-suka-merengek.html
KOMPAS.COM — Menurut Laurel Schultz, MD, dokter anak, anak-anak merengek untuk alasan-alasan yang sangat sederhana. "Mereka merengek untuk mendapatkan perhatian orangtuanya," ujar Laurel. Rengekan dengan nada yang sangat tinggi bisa jadi hal yang sangat efektif karena secara naluriah, orangtua akan langsung menanggapinya.

Pencegahan


Schultz menerangkan, ini bukanlah strategi yang secara sadar dilakukan oleh anak-anak, melainkan sebuah kebiasaan yang ia pelajari, dan tak jarang pula orangtua memiliki peran di dalamnya. Jika anak meminta sesuatu dengan cara yang sopan, tetapi si orangtua tidak merespon, maka sekali-dua kali si anak bisa tahan. Namun berikutnya, ia pun akan menaikkan volumenya. Anak yang masih sangat kecil mungkin akan mengamuk dan menangis, tetapi untuk anak-anak yang lebih besar dan memiliki kontrol diri yang lebih baik, mereka akan merengek.
Untuk mencegah rengekan, Schultz menyarankan para orangtua agar jangan membuat si anak sangat stres baru diladeni. "Sangat penting untuk merespons pada tingkah pertama ketika si anak mulai minta perhatian Anda, sebisa mungkin. Misal, saat Anda sedang sibuk menelepon atau sedang berbincang dengan teman, dan si kecil mulai memanggil Anda, tatap matanya dan berikan tanda agar ia menunggu supaya ia tahu bahwa Anda akan berada bersamanya sebentar lagi. Kemudian, baru berikan perhatian kepadanya setelah Anda sudah mungkin untuk memerhatikannya," papar Schultz.

Merespons anak yang merengek


Ketika anak sudah telanjur merengek, Becky Bailey, PhD, psikolog tumbuh kembang anak, menyarankan agar para orangtua mencoba menenangkan dirinya dulu sebelum menghadapi si kecil. Ambillah napas dalam-dalam dan ingatkan diri sendiri bahwa si kecil bukan berusaha membuat Anda teriritasi, melainkan minta bantuan.

Responlah dengan pernyataan orang pertama dan contohkan cara bicara yang baik dan sopan. Misal, "Ibu (sebagai orang pertama) tidak suka kalau kamu merengek seperti tadi. Jika kalau kamu ingin segelas susu, maka bilang begini, 'Ibu, aku ingin susu'."

Jika Anda menemukan bahwa si kecil masih saja merengek dan Anda yakin bahwa itu bukan karena rasa sakit atau ketidaknyamanan fisik, maka Bailey menyarankan agar orangtua melihat di balik sikap tersebut untuk memutuskan apakah ada pesan lain yang lebih besar tersembunyi di baliknya. Tanyakan kepada diri Anda, apakah hari itu Anda lebih sibuk ketimbang biasanya? Apakah rutinitas si kecil berubah? Apakah si anak bungsu menyita perhatian Anda lebih banyak ketimbang si anak pertama? Kadang, rengekan merupakan pertanda untuk menjalin koneksi dengan si anak.

Untuk melakukan hal tersebut, orangtua disarankan untuk menghabiskan waktu lebih banyak untuk bersama, misalnya membaca buku bersama, memasak bersama, atau melakukan kegiatan lain yang disukai anak. "Menyisihkan beberapa menit untuk menjalin hubungan sekali-dua kali sehari dengan anak bisa mengubah banyak hal dalam keluarga dan menghadapi sikap dan sifat kurang menyenangkan dari anak," ujar Bailey. NAD

Editor: Nadia Felicia Sumber: WebMD
sumber : http://www.bayisehat.com/child-development-mainmenu-35/744-menghadapi-anak-yang-suka-merengek.html

1 Jan 2011

TIPS AGAR ANAK ANDA HOBBY MEMBACA

ANAK cenderung memilih kegiatan yang menyenangkan dan menggembirakan dibandingkan membaca, padahal membaca adalah kegiatan yang dapat menambah wawasan dan ilmu pada anak nantinya. Tetapi jika Anda dapat menciptakan suasana yang menyenangkan dan menggembirakan maka mereka akan bersemangat untuk memulai kegiatan tersebut.

Penulis buku anak terkenal, Peter Corey, menyarankan salah satu kunci sukses agar suasana kegiatan membaca dapat menyenangkan adalah bacalah bersama-sama dengan anak Anda. Membaca bersama si kecil adalah kegiatan yang positif dan edukatif, karena kegiatan tersebut dapat meningkatkan minat baca anak Anda.
Seperti yang dikutip dari femalefirst, Peter Corey juga memberikan tips lainnya untuk Anda meningkatkan minat baca untuk Anak Anda, yaitu:
  
1. Kegiatan membaca bersama lebih efektif bila dilakukan 10-15 menit setiap harinya. Bila Anda tidak menemukan waktu yang tepat selama satu hari penuh, maka manfaatkanlah waktu sebelum tidur untuk membaca bersama buah hati Anda.

2. Membaca merupakan kegiatan yang menyenangkan, jadi hindari memaksakan anak untuk membaca saat si kecil lelah dikarenakan banyak kegiatan. Biarkan ia memiliki inisiatif untuk memulai membaca.

3. Setelah kegiatan membaca selesai, sebaiknya gunakan waktu untuk si kecil memberikan pendapat, kesan, ide tentang cerita tersebut dan dengarkan apa yang diutarakannya kemudian diskusikan. Dengan begitu Anda dapat mengetahui apakah ia mengerti isi buku yang ia baca.

4. Gunakanlah fasilitas yang mendukung cerita, seperti nikmati setiap gambar pada buku cerita tersebut. Anak akan lebih mudah mendapatkan pemahaman dengan bantuan gambar.

5. Selalu memilih cerita yang sederhana, lucu dan menarik untuk anak. Bila perlu pilihlah buku cerita yang menjadi tema kesukaannya.

6. Tema cerita buku anak-anak sangat beragam. Jadi belilah buku tersebut di toko buku bagian khusus anak agar dapat menemukan tema cerita yang menarik.

7. Sederhanakanlah penggunaan kata-kata yang Anda ucapkan. Hindari membacakan kalimat yang panjang dan sulit dimengeri anak. Bila anak Anda tidak paham dengan alur cerita, maka gunakan bahasa sehari-hari yang lebih mudah dimengerti.

8. Jangan ragu untuk menilai buku dari sampul dan siapa penulisnya. Ini dapat menolong Anda untuk memutuskan apakah buku tersebut layak Anda beli.

9. Jangan khawatir jika anak Anda ingin membaca buku yang sama setiap saat. Anak-anak biasanya menikmati kegiatan pengulangan karena dapat membantu mereka untuk lebih memahami cerita.

10. Berikanlah pujian kepada anak Anda yang telah berusaha untuk membaca. Biarkan ia tahu apa kesalahannya saat membaca. Dengan begitu, ia akan semakin sempurna dalam membaca.
sumber : www.bayisehat.com
ANAK cenderung memilih kegiatan yang menyenangkan dan menggembirakan dibandingkan membaca, padahal membaca adalah kegiatan yang dapat menambah wawasan dan ilmu pada anak nantinya. Tetapi jika Anda dapat menciptakan suasana yang menyenangkan dan menggembirakan maka mereka akan bersemangat untuk memulai kegiatan tersebut.

Penulis buku anak terkenal, Peter Corey, menyarankan salah satu kunci sukses agar suasana kegiatan membaca dapat menyenangkan adalah bacalah bersama-sama dengan anak Anda. Membaca bersama si kecil adalah kegiatan yang positif dan edukatif, karena kegiatan tersebut dapat meningkatkan minat baca anak Anda.
Seperti yang dikutip dari femalefirst, Peter Corey juga memberikan tips lainnya untuk Anda meningkatkan minat baca untuk Anak Anda, yaitu:
  
1. Kegiatan membaca bersama lebih efektif bila dilakukan 10-15 menit setiap harinya. Bila Anda tidak menemukan waktu yang tepat selama satu hari penuh, maka manfaatkanlah waktu sebelum tidur untuk membaca bersama buah hati Anda.

2. Membaca merupakan kegiatan yang menyenangkan, jadi hindari memaksakan anak untuk membaca saat si kecil lelah dikarenakan banyak kegiatan. Biarkan ia memiliki inisiatif untuk memulai membaca.

3. Setelah kegiatan membaca selesai, sebaiknya gunakan waktu untuk si kecil memberikan pendapat, kesan, ide tentang cerita tersebut dan dengarkan apa yang diutarakannya kemudian diskusikan. Dengan begitu Anda dapat mengetahui apakah ia mengerti isi buku yang ia baca.

4. Gunakanlah fasilitas yang mendukung cerita, seperti nikmati setiap gambar pada buku cerita tersebut. Anak akan lebih mudah mendapatkan pemahaman dengan bantuan gambar.

5. Selalu memilih cerita yang sederhana, lucu dan menarik untuk anak. Bila perlu pilihlah buku cerita yang menjadi tema kesukaannya.

6. Tema cerita buku anak-anak sangat beragam. Jadi belilah buku tersebut di toko buku bagian khusus anak agar dapat menemukan tema cerita yang menarik.

7. Sederhanakanlah penggunaan kata-kata yang Anda ucapkan. Hindari membacakan kalimat yang panjang dan sulit dimengeri anak. Bila anak Anda tidak paham dengan alur cerita, maka gunakan bahasa sehari-hari yang lebih mudah dimengerti.

8. Jangan ragu untuk menilai buku dari sampul dan siapa penulisnya. Ini dapat menolong Anda untuk memutuskan apakah buku tersebut layak Anda beli.

9. Jangan khawatir jika anak Anda ingin membaca buku yang sama setiap saat. Anak-anak biasanya menikmati kegiatan pengulangan karena dapat membantu mereka untuk lebih memahami cerita.

10. Berikanlah pujian kepada anak Anda yang telah berusaha untuk membaca. Biarkan ia tahu apa kesalahannya saat membaca. Dengan begitu, ia akan semakin sempurna dalam membaca.
sumber : www.bayisehat.com

MENGHADAPI 5 SIFAT KHAS BALITA ANDA

ADA alasan mengapa anak balita mulai menunjukkan sifat egois, agresif, bossy, tapi juga suka menyendiri, dan bahkan pemalu. Semuanya wajar asalkan tidak menetap dan sampai menghambat pengembangan dirinya.

Untuk itulah sifat-sifat khas tersebut tetap perlu diintervensi agar dapat menempati porsinya yang pas dan memberi kesempatan kepada sifat lain yang lebih baik untuk berkembang sebagai karakter anak. Nah, bagaimana mengintervensi ke-5 sifat tersebut?
1. EGOSENTRIS

Sifat yang umumnya muncul pada usia 15 bulanan (atau saat anak sudah sadar akan dirinya/self awareness) ini disebabkan oleh ketidakmampuan si kecil dalam melihat suatu hal dari sudut pandang orang lain. Jadi semua masalah akan diteropong dari kaca mata dirinya. Lantaran sifat ini juga, anak balita selalu “here and now.”

Bila ingin sesuatu harus didapat saat itu juga alias tidak mau menunggu. Misal, saat ia minta es krim pada malam hari ya dia enggak mau tahu harus mendapatkannya saat itu juga. Contoh lain, si kecil merebut mainan temannya. Meski temannya menangis, ia tidak peduli karena ia “berprinsip” “saya suka, saya mau, maka saya harus dapatkan”

Bila dilihat dari perkembangan kognitif, sifat egois akan menghilang saat usia anak 6 tahun. Karena semakin besar anak, lingkungan sosial akan menuntut anak untuk sadar akan lingkungan, selain sadar diri. Nah, pada saat usianya menginjak 3 tahun, sebenarnya anak sudah mulai sadar akan tuntutan sosial tersebut namun perlu stimulasi dari orangtua.

Egosentris yang dibiarkan terus---dalam arti anak selalu mendapatkan apa yang diinginkannya tanpa mempertimbangkan adanya aturan-aturan sosial---bisa menetap sampai si kecil beranjak dewasa dan anak akan dicap buruk oleh lingkungan.

Cara menyiasati

Memang masih agak sulit balita diberi pengertian. Meski ada beberapa anak yang sudah bisa. Namun bagaimanapun di usia balita ini orangtua sudah harus menerapkan aturan-aturan disertai pengertian kepada anak bahwa tidak semua keinginan anak harus terpenuhi. Pada contoh kasus es krim di atas, berilah anak pengertian. Misalnya, ”Hari sudah malam, Dek. Mataharinya juga sudah tidur dan tokonya tutup. Saat mataharinya bangun pagi nanti, baru kita bisa beli es krim.” Jadi, yang penting adalah aturan harus diberikan secara konsisten.

2. BOSSY ATAU SUKA PERINTAH


Bossy sebenarnya masih berhubungan dengan sifat egosentris. Sifat ini merupakan kelanjutan dari usia bayi di mana anak sebelumnya selalu diladeni. Saat memasuki usia balita dimana anak sudah tidak lagi bergantung sepenuhnya dengan orang dewasa---dalam arti ia sudah bisa jalan, bicara, dan melakukan apa pun yang diinginkannya---anak merasa memiliki otonomi. Sikap otonom ini sering dibarengi dengan sikap menyuruh orang lain demi mendapatkan apa yang diinginkan. Seperti, “Mbak, ambilin susu” atau “Bukain sepatu.” Kondisi ini bisa “diperparah” bila ada model orang dewasa di sekitar anak yang selalu bersikap bossy, atau memang anak tidak dibiasakan mandiri.

Yang jelas, sifat bossy tidak akan menghilang dengan sendirinya. Karena anak merasa keenakkan. Ngapain capek-capek melakukan sesuatu kalau hanya dengan menyuruh saja, ia mendapatkan apa yang diinginkan? Perilaku suka perintah di usia balita jadi bisa dianggap lucu. Tapi begitu anak sudah lebih besar lagi, percaya deh kalau sifat itu akan menjengkelkan banyak orang sehingga ia akan dijauhi teman-temannya.

Cara menyiasati


Ajarkan kemandirian (dari hal-hal sederhana) secara bertahap seperti cuci tangan sebelum makan, makan sendiri, buka sepatu dan lain sebagainya.

Jangan menampilkan sikap bossy pada siapa pun (termasuk pada PRT) karena si kecil akan mudah “terinsiprasi” untuk bertingkah laku yang sama.

Bila anak sudah kadung bossy dan terbiasa main suruh, coba bangun kemandiriannya dan dorong ia untuk mengerjakan segala sesuatunya sendiri. Misal, “Dek coba yuk buka sepatunya sendiri. Mama temani.”

3. AGRESIF

Sifat ini sebetulnya sudah tampak sejak usia bayi (terutama pada bayi dengan temperamen sulit). Namun akan semakin kerap kemunculannya di usia balita. Si kecil merasa keinginannya tidak dipahami oleh orang dewasa (berkaitan dengan komunikasi anak balita yang masih terbatas). Agresivitas juga dapat muncul karena kebiasaan. Misal, anak belajar dari pengalamannya jika ia berteriakteriak atau melempar barang maka orang akan memenuhi apa pun yang ia inginkan. Atau kalau ia memukul temannya, maka si teman akan memberikan mainan yang diinginkan kepadanya.

Sifat agresif yang tidak diantisipasi bisa menjadi habituasi dan berlanjut hingga usia dewasa nanti. Di saat usia anak tentunya ia akan dijauhi teman-teman, dicap nakal, sehingga pada akhirnya anak sendiri akan menerima bahwa dirinya “trouble maker” hingga ia besar nanti.

Cara menyiasati

Saat anak tantrum, peluk atau pegang tangan/badannya. Biarkan ia marah. Setelah kemarahannya reda orangtua bisa tanyakan penyebabnya sesuai dugaan atau perkiraan orangtua. Misal, “Adik pasti sedang marah sekali ya karena ibu tidak beli es krim buat kamu sekarang? Ibu tahu, adik ingin es krim. Tapi hari sudah malam, mataharinya sudah tidur dan tokonya sudah tutup. Kalau mataharinya sudah bangun dan tokonya buka, kita nanti beli sama-sama, ya?” Dalam keadaan emosional, anak balita akan bingung mengatakan apa penyebab rasa kesalnya. Lebih baik, kita yang mendefinisikan perasaannya. Cara ini membuat anak merasa dipahami perasaannya.

Jangan menanggapi agresivitas anak dengan cara yang agresif pula. Contoh, saat ia memukul temannya, jangan kita malah mencubit anak untuk menghentikan aksinya itu. Benar sih anak tidak akan meneruskan pukulannya, namun anak justru memperoleh gambaran bahwa sikap kasar itu diperbolehkan.

Beri penjelasan. Memang bukan pekerjaan mudah menjelaskan pada anak balita. Karena hanya sekali diberi tahu tidak akan membuatnya patuh dan melupakan sifat agresifnya. Jangan putus asa, lama-kelamaan jika selalu dijelaskan, anak akan belajar bahwa untuk mendapatkan sesuatu tidak harus dengan sikap agresif.

4. PEMALU


Si kecil kerap bersembunyi di balik kaki ibu/bapak atau terusmenerus memegangi baju kita saat bertemu orang lain? Atau kala ditanya, anak memilih diam dan menundukkan kepala? Kalau memang ya, bisa jadi memang ia pemalu. Namun bisa juga karena ia takut pada orang asing atau tidak terbiasa bertemu dengan orang banyak.

Umumnya, sifat pemalu anak yang karena pembawaan pribadi (diturunkan dari orangtua yang juga pemalu dan tidak suka bersosialisasi) akan terbawa sampai dewasa. Meski tak ada dampak buruk pada anak, namun bisa membuat anak kehilangan peluang dalam dalam berbagai hal, dibandingkan dengan anak yang aktif dan berani. Sifat pemalu juga membuat anak sulit mengembangkan diri dan beradaptasi dengan lingkungan sosialnya.

Cara menyiasati

Untuk menghadapi anak pemalu sebaiknya orangtua sering membawanya untuk bersosialisasi. Latih sejak dini dengan memasukkan anak pada lingkungan sosial dimana banyak anak bermain seperti di taman bermain. Awalnya mungkin anak merasa takut, jadi temani sementara waktu.

Setelah beberapa lama biasanya anak bisa ditinggal dan berbaur bersama anak-anak lainnya. Bisa juga anak diajak ke tempat-tempat pertemuan atau ketika orangtua bertemu dengan kenalan di jalan, anak bisa diminta untuk mengenalkan dirinya atau menyapanya. Misal, “Sayang, kenalin nih. Ini tante Diba. Ayo salam. Beri tahu siapa nama Adek.”

5. PENYENDIRI

Sifat penyendiri pada usia balita---selain dikarenakan perkembangan kognitif anak dalam melihat sesuatu masih dari sudut pandangnya sendiri---perkembangan sosialnya pun masih belum berkembang baik. Anak baru mulai sadar akan adanya tuntutan dari lingkungan sosial di usia 3 tahun ke atas. Lantaran itulah, saat bermain, anak tampak soliter (lebih suka bermain sendiri) meski ada teman di sampingnya. Sifat penyendiri akan menghilang setelah usia balita. Apalagi jika anak sudah berelasi dengan teman-temannya. Namun pada beberapa anak memang sifat penyendiri ini bisa menjadi kebiasaan yang terbawa pula sampai nantinya.

Soal dampak, sebenarnya sifat penyendiri tak jadi masalah. Bahkan hingga usia dewasa pun sebetulnya sifat ini terkadang diperlukan. Karena adakalanya manusia perlu sebagian waktu untuk menyendiri dan sebagian waktunya lagi bersosialisasi. Hanya kalau sifat penyendiri si balita sudah keterlaluan, misal, dia lebih memilih menyendiri sampai 24 jam terus-menerus, ya tidak boleh dibiarkan. Sebab anak tetap perlu beradaptasi dan bersosialisasi dengan lingkungan sosial yang ada.

Cara menyiasati


Sama seperti halnya anak yang pemalu, orangtua perlu mengajak anak dalam kegiatan bersama dan bersosialisasi. Mulailah dari lingkungan orang dekat, seperti taman bermain dekat rumah yang banyak dikunjungi anak-anak tetangga, dan acara keluarga agar anak mengenal sepupu dari keluarga ayah dan ibunya. Setiap saat, ajaklah anak berkomunikasi dan jangan lupa sediakan waktu untuk mendengarkan dan menanggapi setiap ujarannya. Semakin ia percaya bahwa kita bersedia menjadi pendengarnya yang sabar, anak akan semakin berani bicara dan lebih bersikap terbuka.

sumber : http://www.bayisehat.com/child-development-mainmenu-35/760-menghadapi-5-sifat-khas-balita.html
ADA alasan mengapa anak balita mulai menunjukkan sifat egois, agresif, bossy, tapi juga suka menyendiri, dan bahkan pemalu. Semuanya wajar asalkan tidak menetap dan sampai menghambat pengembangan dirinya.

Untuk itulah sifat-sifat khas tersebut tetap perlu diintervensi agar dapat menempati porsinya yang pas dan memberi kesempatan kepada sifat lain yang lebih baik untuk berkembang sebagai karakter anak. Nah, bagaimana mengintervensi ke-5 sifat tersebut?
1. EGOSENTRIS

Sifat yang umumnya muncul pada usia 15 bulanan (atau saat anak sudah sadar akan dirinya/self awareness) ini disebabkan oleh ketidakmampuan si kecil dalam melihat suatu hal dari sudut pandang orang lain. Jadi semua masalah akan diteropong dari kaca mata dirinya. Lantaran sifat ini juga, anak balita selalu “here and now.”

Bila ingin sesuatu harus didapat saat itu juga alias tidak mau menunggu. Misal, saat ia minta es krim pada malam hari ya dia enggak mau tahu harus mendapatkannya saat itu juga. Contoh lain, si kecil merebut mainan temannya. Meski temannya menangis, ia tidak peduli karena ia “berprinsip” “saya suka, saya mau, maka saya harus dapatkan”

Bila dilihat dari perkembangan kognitif, sifat egois akan menghilang saat usia anak 6 tahun. Karena semakin besar anak, lingkungan sosial akan menuntut anak untuk sadar akan lingkungan, selain sadar diri. Nah, pada saat usianya menginjak 3 tahun, sebenarnya anak sudah mulai sadar akan tuntutan sosial tersebut namun perlu stimulasi dari orangtua.

Egosentris yang dibiarkan terus---dalam arti anak selalu mendapatkan apa yang diinginkannya tanpa mempertimbangkan adanya aturan-aturan sosial---bisa menetap sampai si kecil beranjak dewasa dan anak akan dicap buruk oleh lingkungan.

Cara menyiasati

Memang masih agak sulit balita diberi pengertian. Meski ada beberapa anak yang sudah bisa. Namun bagaimanapun di usia balita ini orangtua sudah harus menerapkan aturan-aturan disertai pengertian kepada anak bahwa tidak semua keinginan anak harus terpenuhi. Pada contoh kasus es krim di atas, berilah anak pengertian. Misalnya, ”Hari sudah malam, Dek. Mataharinya juga sudah tidur dan tokonya tutup. Saat mataharinya bangun pagi nanti, baru kita bisa beli es krim.” Jadi, yang penting adalah aturan harus diberikan secara konsisten.

2. BOSSY ATAU SUKA PERINTAH


Bossy sebenarnya masih berhubungan dengan sifat egosentris. Sifat ini merupakan kelanjutan dari usia bayi di mana anak sebelumnya selalu diladeni. Saat memasuki usia balita dimana anak sudah tidak lagi bergantung sepenuhnya dengan orang dewasa---dalam arti ia sudah bisa jalan, bicara, dan melakukan apa pun yang diinginkannya---anak merasa memiliki otonomi. Sikap otonom ini sering dibarengi dengan sikap menyuruh orang lain demi mendapatkan apa yang diinginkan. Seperti, “Mbak, ambilin susu” atau “Bukain sepatu.” Kondisi ini bisa “diperparah” bila ada model orang dewasa di sekitar anak yang selalu bersikap bossy, atau memang anak tidak dibiasakan mandiri.

Yang jelas, sifat bossy tidak akan menghilang dengan sendirinya. Karena anak merasa keenakkan. Ngapain capek-capek melakukan sesuatu kalau hanya dengan menyuruh saja, ia mendapatkan apa yang diinginkan? Perilaku suka perintah di usia balita jadi bisa dianggap lucu. Tapi begitu anak sudah lebih besar lagi, percaya deh kalau sifat itu akan menjengkelkan banyak orang sehingga ia akan dijauhi teman-temannya.

Cara menyiasati


Ajarkan kemandirian (dari hal-hal sederhana) secara bertahap seperti cuci tangan sebelum makan, makan sendiri, buka sepatu dan lain sebagainya.

Jangan menampilkan sikap bossy pada siapa pun (termasuk pada PRT) karena si kecil akan mudah “terinsiprasi” untuk bertingkah laku yang sama.

Bila anak sudah kadung bossy dan terbiasa main suruh, coba bangun kemandiriannya dan dorong ia untuk mengerjakan segala sesuatunya sendiri. Misal, “Dek coba yuk buka sepatunya sendiri. Mama temani.”

3. AGRESIF

Sifat ini sebetulnya sudah tampak sejak usia bayi (terutama pada bayi dengan temperamen sulit). Namun akan semakin kerap kemunculannya di usia balita. Si kecil merasa keinginannya tidak dipahami oleh orang dewasa (berkaitan dengan komunikasi anak balita yang masih terbatas). Agresivitas juga dapat muncul karena kebiasaan. Misal, anak belajar dari pengalamannya jika ia berteriakteriak atau melempar barang maka orang akan memenuhi apa pun yang ia inginkan. Atau kalau ia memukul temannya, maka si teman akan memberikan mainan yang diinginkan kepadanya.

Sifat agresif yang tidak diantisipasi bisa menjadi habituasi dan berlanjut hingga usia dewasa nanti. Di saat usia anak tentunya ia akan dijauhi teman-teman, dicap nakal, sehingga pada akhirnya anak sendiri akan menerima bahwa dirinya “trouble maker” hingga ia besar nanti.

Cara menyiasati

Saat anak tantrum, peluk atau pegang tangan/badannya. Biarkan ia marah. Setelah kemarahannya reda orangtua bisa tanyakan penyebabnya sesuai dugaan atau perkiraan orangtua. Misal, “Adik pasti sedang marah sekali ya karena ibu tidak beli es krim buat kamu sekarang? Ibu tahu, adik ingin es krim. Tapi hari sudah malam, mataharinya sudah tidur dan tokonya sudah tutup. Kalau mataharinya sudah bangun dan tokonya buka, kita nanti beli sama-sama, ya?” Dalam keadaan emosional, anak balita akan bingung mengatakan apa penyebab rasa kesalnya. Lebih baik, kita yang mendefinisikan perasaannya. Cara ini membuat anak merasa dipahami perasaannya.

Jangan menanggapi agresivitas anak dengan cara yang agresif pula. Contoh, saat ia memukul temannya, jangan kita malah mencubit anak untuk menghentikan aksinya itu. Benar sih anak tidak akan meneruskan pukulannya, namun anak justru memperoleh gambaran bahwa sikap kasar itu diperbolehkan.

Beri penjelasan. Memang bukan pekerjaan mudah menjelaskan pada anak balita. Karena hanya sekali diberi tahu tidak akan membuatnya patuh dan melupakan sifat agresifnya. Jangan putus asa, lama-kelamaan jika selalu dijelaskan, anak akan belajar bahwa untuk mendapatkan sesuatu tidak harus dengan sikap agresif.

4. PEMALU


Si kecil kerap bersembunyi di balik kaki ibu/bapak atau terusmenerus memegangi baju kita saat bertemu orang lain? Atau kala ditanya, anak memilih diam dan menundukkan kepala? Kalau memang ya, bisa jadi memang ia pemalu. Namun bisa juga karena ia takut pada orang asing atau tidak terbiasa bertemu dengan orang banyak.

Umumnya, sifat pemalu anak yang karena pembawaan pribadi (diturunkan dari orangtua yang juga pemalu dan tidak suka bersosialisasi) akan terbawa sampai dewasa. Meski tak ada dampak buruk pada anak, namun bisa membuat anak kehilangan peluang dalam dalam berbagai hal, dibandingkan dengan anak yang aktif dan berani. Sifat pemalu juga membuat anak sulit mengembangkan diri dan beradaptasi dengan lingkungan sosialnya.

Cara menyiasati

Untuk menghadapi anak pemalu sebaiknya orangtua sering membawanya untuk bersosialisasi. Latih sejak dini dengan memasukkan anak pada lingkungan sosial dimana banyak anak bermain seperti di taman bermain. Awalnya mungkin anak merasa takut, jadi temani sementara waktu.

Setelah beberapa lama biasanya anak bisa ditinggal dan berbaur bersama anak-anak lainnya. Bisa juga anak diajak ke tempat-tempat pertemuan atau ketika orangtua bertemu dengan kenalan di jalan, anak bisa diminta untuk mengenalkan dirinya atau menyapanya. Misal, “Sayang, kenalin nih. Ini tante Diba. Ayo salam. Beri tahu siapa nama Adek.”

5. PENYENDIRI

Sifat penyendiri pada usia balita---selain dikarenakan perkembangan kognitif anak dalam melihat sesuatu masih dari sudut pandangnya sendiri---perkembangan sosialnya pun masih belum berkembang baik. Anak baru mulai sadar akan adanya tuntutan dari lingkungan sosial di usia 3 tahun ke atas. Lantaran itulah, saat bermain, anak tampak soliter (lebih suka bermain sendiri) meski ada teman di sampingnya. Sifat penyendiri akan menghilang setelah usia balita. Apalagi jika anak sudah berelasi dengan teman-temannya. Namun pada beberapa anak memang sifat penyendiri ini bisa menjadi kebiasaan yang terbawa pula sampai nantinya.

Soal dampak, sebenarnya sifat penyendiri tak jadi masalah. Bahkan hingga usia dewasa pun sebetulnya sifat ini terkadang diperlukan. Karena adakalanya manusia perlu sebagian waktu untuk menyendiri dan sebagian waktunya lagi bersosialisasi. Hanya kalau sifat penyendiri si balita sudah keterlaluan, misal, dia lebih memilih menyendiri sampai 24 jam terus-menerus, ya tidak boleh dibiarkan. Sebab anak tetap perlu beradaptasi dan bersosialisasi dengan lingkungan sosial yang ada.

Cara menyiasati


Sama seperti halnya anak yang pemalu, orangtua perlu mengajak anak dalam kegiatan bersama dan bersosialisasi. Mulailah dari lingkungan orang dekat, seperti taman bermain dekat rumah yang banyak dikunjungi anak-anak tetangga, dan acara keluarga agar anak mengenal sepupu dari keluarga ayah dan ibunya. Setiap saat, ajaklah anak berkomunikasi dan jangan lupa sediakan waktu untuk mendengarkan dan menanggapi setiap ujarannya. Semakin ia percaya bahwa kita bersedia menjadi pendengarnya yang sabar, anak akan semakin berani bicara dan lebih bersikap terbuka.

sumber : http://www.bayisehat.com/child-development-mainmenu-35/760-menghadapi-5-sifat-khas-balita.html
 
Planet Bayi Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template